
APEGTI Sinyalir Gula Rafinasi Beredar di Kepri
Rabu, 26 April 2017 22:44 WIB

Batam dan Kepri penyakitnya sama. Hampir seluruhnya terdapat gula rafinasi
Batam (Antara Kepri) - Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (APEGTI) Provinsi Kepuauan Riau mensinyalir gula rafinasi banyak beredar di provinsi itu dan membahayakan masyarakat.
"Batam dan Kepri penyakitnya sama. Hampir seluruhnya terdapat gula rafinasi," kata Ketua DPP APEGTI Kepri, Nurbaini usai rapat koordinasi bersama Kementerian Perdagangan di Batam, Kepri, Rabu.
Gula itu banyak dijual bebas di pasar-pasar tradisional di seluruh kabupaten kota. Ada yang dijual seluruhnya rafinasi, ada pula yang dijual dengan cara mengoplos dengan gula biasa.
"Ada yang dioplos, satu plastik itu ada gula yang besar dan ada yang kecil, tidak sama karena dioplos," kata dia.
Gula rafinasi lebih halus ketimbang gula biasa, cenderung menyerupai tepung, sehingga bila dicampur relatif sulit diketahui.
"Gula ini berbahaya, kalau dikonsumsi lama-lama bisa meninggal," kata dia.
Menurut dia, distributor lebih suka menjual gula rafinasi dan gula rafinasi oplosan, karena harganya lebih murah.
Harga gula itu hanya sekitar Rp5.500 hingga Rp6.000 per kg. Jauh lebih murah dibanding harga gula biasa yang mebcapai Rp12.500 per kg.
"Gula ini sama penjual juga dijual sama dengan harga gula biasa, sehingga untungnya lebih besar," kata dia.
Ia mendesak pemerintah untuk membentuk tim monitoring untuk memantau peredaran gula di Kepri, agar terhindar dari gula rafinasi.
Tim, kata dia, semestinya terdiri dari berbagai pihak terkait seperti Bea dan Cukai, kepolisian, TNI AD dan TNI AL, karena gula itu biasanya berasal dari luar negeri, sehingga pintu masuknya harus dijaga.
"Karena gula rafinasi banyak dari luar," kata dia.
Mengenai penetapan Harga Eceran Tertinggi gula, ia mengatakan asosiasinya tidak keberatan karena untuk melindungi masyarakat.(Antara)
Editor: Niko
Pewarta : Jannatun Naim
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
