Minggu, 22 Oktober 2017

Pewarta Antara Kepri Terbitkan Buku Jurnalisme Kemaritiman

id Pewarta,Antara,Kepri,Terbitkan,Buku,niko,panama,Jurnalisme,Kemaritiman
Pewarta Antara Kepri Terbitkan Buku Jurnalisme Kemaritiman
beberapa pemateri saat mengisi bedah buku “Pena di Batas Negeri: Catatan Jurnalisme Kemaritiman Kepri” penulis Wartawan LKBN Antara, Nikolas Panama. (antarakepri.com/Aji Anugraha)
Ada kisah menarik dalam buku ini, pengalaman selama liputan masih langka diabadikan di dalam buku. Termasuk di Kepri, wilayah yang diakui berbagai pihak, unik, belum pernah memuat kisah jurnalis maritim
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pewarta Kantor Berita Antara Nasional Biro Kepulauan Riau Nikolas Panama, menerbitkan buku berjudul "Pena di Batas Negeri" Catatan Jurnalisme Kemaritiman Kepri" yang diharapkan dapat memacu semangat para jurnalis terus berkontribusi membangun dan mengelola sektor kemaritiman.

Buku yang diterbitkan Nikolas Panama itu dibedah dalam acara bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang, Rabu.

Buku yang ditulis bersama para penulis Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang tersebut juga dikritisi oleh para pembandiing yang didatangkan dari perwakilan organisasi pers dan mahasiswa.

"Buku jurnalisme kemaritiman ini sebagai bentuk penghargaan terhadap jurnalis di Kepri yang sudah bekerja keras meliput dan mengabadikan informasi penting, sebagai sektor andalan yang selama ini belum memberi kontribusi yang besar terhadap pendapatan daerah,"  kata Niko dalam penjelasannya, mengawali bedah buku.

Niko sapaannya, menjelaskan kenapa dan bagaimana buku kisah peliputan para jurnalis, catatan sejarah kemartiman, kata pengatar hingga teknik peliputan jurnalis ditulis dalam 160 lembar kertas yang terbagi dalam 3 Bab, bersama rekannya Trisno Aji dan Ahada Wahyu Sari.

"Ada kisah menarik dalam buku ini, pengalaman selama liputan masih langka diabadikan di dalam buku. Termasuk di Kepri, wilayah yang diakui berbagai pihak, unik, belum pernah memuat kisah jurnalis maritim," ujarnya.

Ia mengatakan isu kemaritiman dalam beberapa tahun terakhir populer secara nasional, seiring dengan berbagai kebijakan yang diberlakukan Pemerintah Pusat.

Keseriusan negara mengurusi permasalahan kemaritiman dibuktikan dengan pembentukan Badan Nasional Pengelola Perbatasan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan berkembang menjadi Kementerian Koordinator Kemaritiman saat Indonesia dipimpin Joko Widodo.

Istilah dalam pengembangan sektor kemaritiman pun mulai bermunculan, misalnya, daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), membangun Indonesia dari pinggir dan pariwisata bahari.

Istilah itu lahir bersamaan dengan komitmen pemerintah membangun provinsi yang dikelilingi pulau-pulau, yang mayoritas dihuni oleh masyarakat nelayan, yang kurang mampu.

Perhatian Pemerintah Pusat terhadap sektor kemaritiman menguntungkan provinsi kepulauan, salah satunya Kepulauan Riau yang memiliki 1.796 pulau (diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa).

"Hampir setiap hari berbagai informasi tentang kemaritiman pun menghiasi media massa. Di Kepri berita terkait permasalahan kemaritiman juga cukup banyak, namun belum menjadi isu sentral," ujarnya.

Niko memulai kenapa buku tersebut ditulis, berawal dari perkembangan Pers di Kepri cukup pesat, dimulai sejak tahun 2014 hingga saat ini. Perkembangan pers di era digital dibuktikan dengan munculnya ratusan media online.

Kondisi ini bertolak belakang dengan media cetak yang dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami kesulitan keuangan. Beberapa diantaranya gulung tikar. Media cetak yang bertahan sampai sekarang di Kepri: Batam Pos, Tribun Batam, Posmetro, Sindo Batam, Haluan Kepri, dan Tanjungpinang Pos.

Sementara media online di Provinsi Kepri yang kebanyakan berpusat di Batam dan Tanjungpinang setiap bulan bertambah jumlahnya. Media online yang berdiri sejak beberapa tahun lalu dan sampai sekarang masih eksis antara lain: batamtoday.com, antarakepri.com, radarkepri.com, batampos.co.id, haluankepri.com, sindobatam.com, kepridays.com, metrokepri.com.

Sedangkan media televisi yang sampai saat ini masih bisa ditonton oleh masyarakat Kepri yakni: Batam TV, Tanjungpinang TV, Ficom TV, KCS TV, dan Bintan TV.

Pers industri jarang melihat sektor kemaritiman sebagai menu utama dalam proyeksi pemberitaan. Karena itu, berita-berita tentang kemaritiman tidak selalu dapat dinikmati pembaca secara rutin.

"Kecuali ada momentum besar saat pemerintah merencanakan atau melaksanakan program pembangunan sektor kemaritiman baik di pantai maupun pulau-pulau yang berbatasan dengan negara tetangga.

Isu tentang kemaritiman juga sering kali kalah dengan peristiwa kriminalitas, politik, pemerintahan dan lainnya yang dinilai lebih “menjual”.

"Kondisi inilah yang menyebabkan sejumlah jurnalis meliput peristiwa yang berhubungan dengan kemaritiman hanya pada saat tertentu," ujarnya.

Menurutnya liputan lebih banyak mengandalkan informasi dari pihak yang memiliki kepentingan agar peristiwa tersebut diliput, sehingga tidak terencana.

"Hasil liputan tersebut kurang menarik jika hanya mengandalkan informasi satu arah dari narasumber tanpa pertanyaan yang kritis, yang dibutuhkan masyarakat. Pernyataan narasumber tersebut tentunya tidak terlepas dari membangun pencitraan lembaga atau pribadinya," katanya.

Sementara, berita yang memiliki nilai tinggi membutuhkan penggalian informasi dan data lebih mendalam sehingga permasalahan yang diangkat dapat dilaporkan dengan lengkap dan berimbang.

Informasi yang terbatas dari narasumber yang berkompeten, dan keterbatasan pengetahuan tentang isu kemaritiman juga menjadi penghambat berita tentang kemaritiman.

Hal itu mengakibatkan berita tentang kemaritiman yang disajikan pada sejumlah media massa kurang menarik, dangkal dan tidak tuntas.

Ketergantungan pers terhadap pemerintah yang cukup besar menjadi kendala dalam menyajikan berita kemaritiman yang tajam. Biaya liputan salah satu alasan kenapa isu tentang kemaritiman sulit terpublikasi.

Segala bentuk uraian hingga teknik penulissan berita kemaritiman tertuang dalam buku tersebut.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau Amir Husein mengapresiasi atas terbitnya buku jurnalisme maritim tersebut, berharap menambah minat baca dan menulis di Kepri.

"Jumlah penduduk Kepri tidak sebanding dengan jumlah minat baca masyarakat Kepri, untuk itu kami berharap dengan hadirnya buku ini dan para penulis seperti ini dapat memberikan motivasi kepada masyarakat setempat," ujarnya.

Bedah buku berlangsung hikmat, beberap narasumber seprti Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam-Tanjungpinang Muhammad Zuhri dan perwakilan dari PWI Kepri menjadi pembanding dalam bedah buku tersebut.

"Pesatnya kemajuan teknologi sebenarnya mengantarkan kita untuk dapat membantu dalam menerapkan menyebarkan virus virus menulis ini, saya berharap penulis seperti Nikolas Panama dapat menularkan ilmunya kepada generasi penerus," ujar Zuhri. (Antara)

Editor: Rusdianto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga