Mahasiswa Tanjungpinang Geluti Industri Kreatif Tanjak Modern

id Mahasiswa,Tanjungpinang,Industri,Kreatif,melayu,Tanjak,Modern

Biaya kuliah dan kebutuhan lainnya saya dapat dari hasil usaha ini
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Sejumlah mahasiswa Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau mulai menggeluti industri kreatif tanjak, kain alas kepala khas melayu dengan sentuhan inovatif dan modern.

Salah seorang pelaku industri kreatif tanjak, Agus, di Tanjungpinang, Senin, mengatakan usaha yang digelutinya bermula dari pengalaman saat bekerja di salah satu perusahaan yang memproduksi produk khas Tanjungpinang.

"Dari pengalaman kerja itu saya membuka usaha bersama teman-teman saya," ujarnya yang juga mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pembangunan Tanjungpinang.

Agus yang berkuliah sejak 4,5 tahun lalu itu tidak menyangka usaha yang digelutinya maju. Bahkan sejak semester pertama, ia sudah mandiri.

"Biaya kuliah dan kebutuhan lainnya saya dapat dari hasil usaha ini," ucapnya.

Ia mengatakan di Tanjungpinang kini cukup banyak mahasiswa melakukan usaha pembuatan tanjak. Usaha ini menguntungkan karena banyak yang menyukainya.

Tanjak sering digunakan dalam kegiatan resmi maupun nonformal. Tanjak juga dapat dijadikan buah tangan.

Bahkan sekarang sudah seperti menjadi tren para pemuda mengenakan tanjak.

"Banyak pesanan. Bahkan kami sudah menjual tanjak ini ke kawasan wisata internasional Lagoi, Bintan," tuturnya.

Agus bersama rekan kerjanya juga mulai mengembangkan usaha ini secara serius. Dari industri rumahan, ia akan menyewa rumah toko untuk memproduksi dan menjual tanjak modern.

Selama 4,5 tahun, tanjak yang dikembangkannya jenis Biduk Kelana dan Laksamana yang diinovasi menjadi modern. Dalam sehari ia bisa memproduksi sebanyak 25 tanjak.

Harga tanjak, kata dia tergantung jenis kain yang digunakan. Satu tanjak yang terbuat dari kain songket harganya mencapai Rp250.000, sedangkan tanjak berbahan kain batik hanya Rp150.000.

"Saya ingin kembangkan Tanjak Kembara," katanya.

Agus mengaku tidak berani mengembangkan tanjak tradisional, karena harus mengenal silsilah. Tanjak tradisional dikenakan sesuai dengan status masyarakat melayu.

Tanjak tradisional juga dikenakan saat mengenakan baju kurung.

"Tanjak yang dikenakan raja berbeda dengan rakyat jelata. Ini sesuatu yang sulit, karena itu kami mengembangkan tanjak modern yang bisa digunakan dengan pakaian biasa, tidak harus baju kurung," ucapnya. (Antara)

Editor: Rusdianto

Pewarta :
Editor: Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar