
Pengamat: Golkar gagal kaderisasi kader maju pilkada
Kamis, 4 Januari 2018 15:37 WIB

Golkar tidak melakukan proses pengkaderan dengan baik, meskipun realitas politik hari ini dan kemungkinan kader Golkar tidak laku di jual
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pengamat politik Tanjungpinang Hendri Sanopaka menilai Golkar gagal mengkaderisasi kadernya maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tanjungpinang 2018.
"Kalau kita bicara tentang Pilwako atau Pilpres sekalipun ya, memang yang menjadi kekuatan untuk jualan calon itu adalah figur, sehingga memang sangat disayangkan partai politik yang akhirnya tidak bisa mengkaderidasi kadernya bisa dikatakan gagal mengkader dengan baik menjadi pemimpin masa depan, kata Hendri, di Tanjungpinang, Kamis.
Diketahui Golkar mengusung kader Partai Gerindra Kepri, Syahrul dan kader PDI Perjuangan Tanjungpinang, Rahma untuk maju sebgai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang mendatang.
Dalam analisa akademisi di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Raja Haji Fisabilillah ini, menurutnya bicara pengusungan calon dari partai, melihat elektabilitas dan popularitas figur.
Ia menilai, Golkar tidak melakukan proses pengkaderan dengan baik, meskipun realitas politik hari ini dan kemungkinan kader Golkar tidak laku di jual.
"Realitas politik seperti itu, karena mereka juga melakukan survei, melihat respon publik seperti apa, akhirnya sampai dengan dua keputusan, bahwa dari pada sendirian lebih baik Golkar mengusung figur lain yang kebetulan dari partai lain, ujarnya.
Sementara si kader sendiri, lanjutnya, menghadapi persoalan etika politik di internal partai, sehingga kemungkinan terbesar, kader tidak akan melawan unsur pimpinan, meskipun punya keinginan tapi tidak didukung di internal partai.
Karena kunci utama di dalam memenangkan Pilwako ini kan kendaraannya, jadi percuma jika punya pipularitas yang baik tapi tidak didukung partai politik, jadi percuma, katanya.
Bicara mengenai etika politik partai, kata dia sulit untuk diterapkan pada saat ini, mengingat politik berbicara tentang kepentingan.
Etika politik partai tidak begitu menonjol pada Pilkada 2018. Namun, yang paling menonjol yakni, kepentingan politik dari partai-partai politik yang hari ini mencalonkan figur-figur tertentu yang mempunyai muatan politik.
Dan saya pikir ini tidak hanya di Pilwako, tapi mereka berharap si figur tadi mampu mendongkrak prolehan suara nanti pada pemilihan legislatif, saya pikir ini simultan, ujarnya.
Menurut Hendri, Golkar merupakan salah satu partai yang cukup realistis dalam melihat situasi politik, mengingat Golkar dapat mengambil kesempatan dalam memilih figur yang berpotensi untuk memenangkan Pilkada Tanjungpinang.
Biacara secara organisasi sangat disayangkan, tapi kalau kita bicara soal realitas politik itu sah sah saja, karena saya lihat dari awal saya sudah memprediksi bahwa ketika pak ade angga secara akhir survei, bisa melampaui batas calon lain, Golkar akan secara transaksional memilih figur figur lain, ujarnya.
Sementara dengan Golkar mengusung Rahma dan Syahrul, menurut Hendri bukan strategi memecahkan suara PDI P, tapi strategi untuk memenangkan merebut suara di pemilihan legislatif 2019.
Ia menilai, figur Rahma yang diungggulkan menang pada Pilleg 2014 mampu mendongkrak prolehan suara PDIP di Tanjungpinang Timur, sehingga PDIP bisa meraih 3 kursi.
Nah dengan sosok figur buk Rahma sendiri yang dapat meraih suara dukungan banyak, saya pikir ini menjadi rebutan dari partai lain, tidak hanya Golkar, tapi semua partai," katanya.(Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta : Aji Anugraha
Editor:
Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026
