Investor Singapura masih lirik Kota Batam

id investor singapura,investasi batam

Delegasi Singapore Chinese Chamber of Commerce & Industry berfoto bersama Deputi Bidang Perencanaan dan Pengembangan Yusmar Anggadinata (tengah jaket hijau). (Antaranews Kepri/Messa Haris)

Salah satu tugas saya adalah bagaimana bisa membawa para pengusaha di Singapura lebih banyak lagi untuk berinvestasi di Batam
Batam (Antaranews Kepri) - Para investor Singapura masih melirik Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau sebagai tujuan berinvestasi bukan hanya karena jaraknya dekat, tapi banyak kemudahan yang diberikan.

Principal Business Advisor, di Batam, Jumat, Alan Wong mengatakan saat ini pihakya masih mencari sejumlah informasi ke Badan Pengusahaan (BP) Batam. Baca juga: Batam masih dilirik investor Singapura

"Salah satu tugas saya adalah bagaimana bisa membawa para pengusaha di Singapura lebih banyak lagi untuk berinvestasi di Batam," katanya.

Alan menambahkan apabila biaya yang dibutuhkan lebih murah akan memudahkan bagi perusahaan-perusahaan di Singapura. Baca juga: 55 investor Singapura jajaki ekonomi digital di Batam

Batam kata dia masih menarik dan kedatangan mereka ingin melihat seberapa kompetitif biaya yang dibutuhkan jika dibandingkan dengan Singapura, baik biaya operasi, manufaktur ataupun biaya-biaya lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha di Batam.

Konsep dwi paket antara Singapura-Batam maupun Singapura-Bintan kata Alan tidak akan berubah. Karena Batam dan Bintan serta Kepri menawarkan potensi manufaktur ke Singapura.

"Jika biayanya bisa dipertimbangkan dan jelas, maka akan banyak perusahaan yang datang ke Batam, khususnya dari Singapura," jelasnya.

Wakil Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hioeng menambahkan kemudahan-kemudahan investasi di Batam seperti layanan izin investasi 3 jam (I23J) dan KILK (Kemudahan Layanan Investasi Langsung Konstruksi) belum diketahui banyak investor asing.

Menurutnya kedatangan delegasi Singapura itu untuk mengetahui informasi investasi dan hal terbaru di Batam.

Tjaw mengaku banyak hal baru serta perbaikan yang sudah dilakukan BP Batam belum banyak diketahui oleh pihak luar. Keamanan lanjut Tjaw di Batam yang jauh kondusif menjadi salah satu faktor utama yang selama ini ditanyakan investor.

"Trauma masa lalu masih ada, karena banyak yang berpikir Batam itu tempatnya sweeping dan demo. Tapi sekarang sudah jauh berbeda, karena itu mereka tadi juga ingin tahu terkait dengan hal itu," katanya.

Tjaw mengatakan para delegasi Singapura itu juga menanyakan terkait usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Batam. Tujuannya adalah untuk mencari peluang kerjasama atau transfer teknologi dengan UMKM di Singapura.

Deputi Bidang Perencanaan dan Pengembangan Yusmar Anggadinata mengatakan kedatangan delegasi Singapore Chinese Chamber of Commerce & Industry untuk mengetahui perkembangan Batam.

Dengan tujuan untuk mengajak pengusaha-pengusaha Singapura memperluas bisnisnya di Batam, tidak hanya perusahaan besar saja, tapi juga perusahaan-perusahaan menengah.

Salah satu yang dipertanyakan perizinan dan regulasi untuk investor asing. Yusmar mengatakan peraturan di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKMP) investasi asing minimal harus menanamkan modalnya Rp10 miliar.

"Tapi bagi perusahaan menengah Rp10 miliar itu terlalu besar, ini tentu akan menjadi masukan bagi kita akan kita sampaikan ke pemerintah pusat, " katanya.

Angga menambahkan pelaku UMKM di Singapura mayoritas sudah menggunakan teknologi tinggi. Sehingga ini bisa dijadikan peluang untuk menjalin kerjasama atau transfer ilmu kepada UMKM yang ada di Batam.

Sumber daya manusia (SDM) di Batam kata Yusmar juga memiliki kompetensi yang tidak kalah karena saat ini sudah ada industri digitalisasi di Nongsa dan perguruan tinggi di bidang teknologi yakni Politeknik Negeri Batam. Baca juga: Politeknik Negeri Batam Kejar Akreditasi B.  (Antara)

Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar