GRC: PDIP unggul pada Pemilu Legislatif 2019

id Gurindam Research Centre,GRC,suvei,pemilu legislatif,PDIP

Ilustrasi PDIP (Foto antaranews.com)

Partai politik yang mendukung Syahrul-Rahma tingkat keterpilihannya masih relatif rendah dibandingkan partai politik pendukung Lis-Maya
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Gurindam Research Centre (GRC) menyatakan PDIP masih unggul di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Pemilu Legislatif 2019.

Direktur Gurindam Research Centre (GRC) Raja Dachroni, di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan berdasarkan hasil survei yang dilakukan saat pilkada baru-baru ini, tingkat keterpilihan PDIP pada Pemilu Legislatif 2019 lebih tinggi dibanding Golkar dan Gerindra, yang mengusung calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul-Rahma.

"Partai politik yang mendukung Syahrul-Rahma tingkat keterpilihannya masih relatif rendah dibandingkan partai politik pendukung Lis-Maya," ujarnya.

Berdasarkan hasil penghitungan suara yang dilakukan KPU Tanjungpinang pada 4 Juli 2018, Syahrul-Rahma lebih unggul dibanding Lis-Maya. Namun berdasarkan Pemilu 2014, PDIP memperoleh kursi paling banyak dibanding peserta pemilu lainnya.

Saat survei Pilkada Tanjungpinang 2018, GRC menyelipkan satu pertanyaan untuk Pemilu 2019, partai apakah yang akan dipilih responden. Jawaban responden mendorong posisi PDIP paling tinggi yakni sebanyak 29 persen, disusul Gerindra 7 persen, Golkar 6,3 persen, PAN 5,8 persen dan PKS 5,5 persen.

Selanjutnya, kata dia, Demokrat 4,3 persen, Hanura 2,5 persen, Perindo 2,3 persen, NasDem 0,8 persen, PKB 0,3 persen, PSI 0,3 persen, golput 0,5 persen, dan masih ada 33,8 persen yang belum menentukan pilihan.?

Dari kondisi itu, Dachroni mengatakan partai pengusung maupun partai pendukung Syahrul-Rahma, Golkar, Gerindra, PKS dan PKB harus kerja keras pada Pemilu Legislatif 2019.

"Jika Syahrul-Rahma mau menyukseskan programnya selama lima tahun, selain merangkul partai politik yang tidak mengusungnya, juga harus didukung programnya oleh partai politik yang mendukung sebelumnya," ucapnya.

Dachroni mengatakan, secara metodologi, populasi dalam survei ini adalah WNI yang berdomisili di Kota Tanjungpinang dan telah mempunyai hak pilih (memiliki KTP), yakni berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah ketika dilakukan survei ini. Sampel berasal dari 4 kecamatan di Kota Tanjungpinang yang terdistribusi secara proporsional berdasarkan besaran jumlah penduduk.

Jumlah responden dalam survei ini sebanyak 400 responden dengan proporsi (50:50) laki-laki dan perempuan. Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 4,90 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen

Setiap responden terpilih dilakukan wawancara dengan metode tatap muka (face to face) oleh pewawancara yang telah dilatih. Dilakukan "quality control" sebanyak 20 persen dari total sampel secara random, dengan cara mendatangi kembali responden terpilih atau mengonfirmasi ulang responden terpilih (spot check). Dalam kualitas kontrol tidak ditemukan kesalahan.

"Melihat survei ini jangan hanya dilihat dari persentase tertinggi dan terendah, tapi dilihat juga dari pemilih yang belum menentukan pilihan," katanya.

Dia menambahkan, tidak otomatis kekalahan Lis Darmansyah akan menurunkan suara atau kursi PDIP di DPRD Tanjungpinang yang saat ini dominan karena kedua kompetisi dalam pileg dan pilkada adalah suatu hal yang berbeda.

"Jadi tidak selalu berbanding lurus, kalah di pilkada belum tentu di pileg, atau sebaliknya menang di pileg belum tentu di pilkada. Jadi keduanya punya variabel yang berbeda," katanya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar