KPU Kepri telusuri data pemilih anomali

id KPU Kepri,pemilih anomali,NIK ,nomor induk kependudukan

Komisioner KPU Kepri, Arison. (Antara News Kepri/Ogen)

Data anomali itu ditemukan Kemendagri dan KPU, karena adanya keragu-raguan terhadap identitas pemilih tersebut. Kami memiliki waktu hingga akhir Oktober 2018 untuk memastikan data pemilih itu apakah benar adanya atau tidak
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kepulauan Riau menelusuri data pemilih anomali yang tersebar di kabupaten dan kota.

Komisioner KPU Kepri Arison, yang dihubungi Antara di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan, jumlah data pemilih anomali mencapai puluhan ribu orang, paling banyak tersebar di Batam.

"Data anomali itu ditemukan Kemendagri dan KPU, karena adanya keragu-raguan terhadap identitas pemilih tersebut. Kami memiliki waktu hingga akhir Oktober 2018 untuk memastikan data pemilih itu apakah benar adanya atau tidak," ujarnya.

Arison menjelaskan data pemilih yang dicurigai anomali itu seperti nama pemilih yang singkat. Ribuan nama ditemukan hanya memiliki dua sampai tiga huruf.

Ia mengemukakan KPU Kepri beserta jajarannya sudah membangun pos pelayanan pemilih mulai di tingkat provinsi hingga kelurahan. Jumlah pos pelayanan pemilih mendekati 500 pos.

"Pos ini juga dapat dimanfaatkan masyarakat yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih tetapi belum masuk daftar pemilih tetap," katanya.

Dari hasil verifikasi faktual terhadap sejumlah data pemilih anomali merupakan fakta. Berdasarkan data tersebut, kata dia pemilih yang rata-rata sudah berusia tua, hanya memiliki dua sampai tiga huruf.

"Di Karimun kami temukan sejumlah nama yang pendek, tetapi orangnya memang ada, bukan fiktif," tegasnya.

Arison mengatakan KPU juga menemukan satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang digunakan untuk beberapa nama. Ia menduga salah satu penyebabnya kesalahan petugas dalam memasukkan data pemilih dalam sistem data pemilih.

"Satu NIK dengan beberapa nama pemilih ini juga terjadi di kabupaten dan kota di Kepri," katanya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar