Kematian akibat kanker di Kepri mengkhawatirkan

id Kanker

Ilustrasi : Masyarakat mengikuti senam sebagai bagian dari gaya hidup sehat, di Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. (Antaranews Kepri/Ogen)

Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Angka kematian yang dipicu penyakit kanker di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau cukup tinggi dalam kurun waktu 3 tahun terkahir.

Wakil Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) cabang Tanjungpinang Rustam menyatakan, sejak tahun 2015 hingga September 2018, terdata penderita kanker di Kota Tanjungpinang berjumlah 57 orang. 

"Dengan rincian 23 pengidap berhasil sembuh, 20 orang meninggal dunia dan 14 orang lainnya menjalani pengobatan," kata Rustam, Selasa (6/11).

Terkait jumlah penderita yang ada, Rustam mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk melakukan pencegahan dini terkait bahaya penyakit kanker yang mengancam tubuh manusia. Baik kanker payudara, leher rahim, paru-paru dan sebagainya.

Pria yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang ini menyampaikan, penyakit kanker dapat diantisipasi dengan melaksanakan program pemeriksaan kesehatan secara berkala, hingga menghindarkan diri dari paparan asap rokok. Selanjutnya dijelaskan Rustam, masyarakat harus rutin melakukan aktivitas fisik dengan berolahraga, istrahat yang cukup dan sedapat mungkin menghindarkan diri dari kemungkinan stres. Termasuk mengkonsumsi pangan yang bergizi seimbang dan menghindari makanan-makanan berbahan pengawet dan berpewarna. 

"Cukup serat, cukup sayur, cukup protein, vitamin hingga mineral," ucapnya. 

Rustam menambahkan, pihaknya akan mensosialisasikan berbagai program pencegahan serta penanggulangan penyakit kanker di kalangan masyarakat Tanjungpinang. Sebab menurutnya, banyak kasus-kasus kanker yang ditemukan di lingkungan masyarakat, namun terlambat dideteksi dan telah berada pada stadium 3 dan 4.

"Kita akan intens melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat, guna mencegah adanya penyakit kanker di Kota Tanjungpinang," tutupnya.  
Pewarta :
Editor: Joko Sulistyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar