Nelayan Karimun berharap dispensasi terkait konversi energi

id konversi,energi,minyak tanah,gas,elpiji,karimun

Warga Kelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tanjungpinang Kota menggunakan elpiji 3 kg untuk kebutuhan sehari-hari. (Antara News Kepri/Ogen)

Kita tidak tahu seperti apa kebijakan pemerintah. Kita juga berharap ada solusi dan tidak memaksakan program ini berjalan, tapi merugikan masyarakat pesisir yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan
Karimun (ANTARANews Kepri) - Kalangan nelayan tradisional di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau berharap adanya dispensasi berupa kebijakan khusus terkait program konversi minyak tanah ke gas elpiji.

"Nelayan tradisional dengan kapal 5 GT akan terkena dampak program konversi minyak tanah ke gas. Karena itu, mereka berharap tetap diberikan ruang untuk mendapatkan minyak tanah bersubsidi," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karimun Amirullah di Tanjung Balai Karimun, Minggu.

Program konversi minyak tanah ke gas elpiji, menurut dia, menjadi pembicaraan di kalangan nelayan tradisional yang khawatir minyak tanah ditarik dari pasaran jika program tersebut direalisasikan.

Sementara, nelayan menggunakan minyak tanah untuk keperluan memasak selama menangkap ikan di laut.

Menurut Amirullah, kalaupun mereka mendapat juga menjadi sasaran program konversi minyak tanah ke gas, nelayan dengan kapal 5 GT ke bawah juga tidak mungkin bisa menggunakannya gas selama di laut.

"Jelas tidak bisa dengan kapal sekecil itu. Bisa berbahaya kalau kapal dihantam gelombang," tuturnya.

Dia mengakui penggunaan tabung elpiji lebih ekonomis dibandingkan minyak tanah. Namun, program ini memiliki dampak bagi lebih dari 10.000 nwlayan tradisional di Kabupaten Karimun.

"Kita tidak tahu seperti apa kebijakan pemerintah. Kita juga berharap ada solusi dan tidak memaksakan program ini berjalan, tapi merugikan masyarakat pesisir yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan," kata Amirullah.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan ESDM Karimun Muhammad Yosli mengatakan, nelayan memang tidak termasuk penerima tabung elpiji bersubsidi.

Namun demikian, nelayan tidak perlu khawatir tidak mendapatkan minyak tanah karena masih ada minyak tanah nonsubsidi di pasaran.

"Minyak tanah nonsubsidi tetap ada. Dan minyak tanah bersubsidi juga tidak ditarik sekaligus, tetapi bertahap sampai tabung elpiji selesai didistribusikan," katanya.

Yosli juga mengatakan Dinas Perikanan dan Kelautan juga memiliki program mengenai bahan bakar gas untuk nelayan.

"Saya tidak tahu persis berbentuk apa, yang jelas berbentuk tabung elpiji 3 kilogram. Bisa ditanyakan langsung ke Dinas Perikanan, seperti apa programnya," ujarnya.

Disinggung program konversi minyak tanah ke gas, dia mengatakan masih berjalan dan sedang dalam tahap pendistribusian dari kecamatan.

"Pekan ini sudah didistribusikan," kata dia.

Total penerima tabung elpiji bersubsidi 3 kilogram sebanyak 45.587 rumah tangga dan usaha mikro.
Pewarta :
Editor: Kabiro kepri
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar