Jumlah penduduk miskin di Kepri berkurang di tahun 2018

id Jumlah penduduk miskin di Kepri berkurang di tahun 2018

Kepala BPS Provinsi Kepri Zulkipli (Ogen)

Kedepan kita harus menjaga stabilitas harga pangan beras, telur, dan ayam ras. Karena itu  sangat berpengaruh terhadap angka kemiskinan
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Kepulauan Riau, mengalami penurunan sebanyak 6.324 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri per September 2018.

"Jika dibanding dengan September tahun 2017 sebanyak 125.362 orang, tahun 2018 yang lalu menjadi 131.686 orang jumlah penduduk miskin atau turun sebanyak 3.064 orang," kata Kepala BPS Kepri, Zulkipli, Selasa (15/1).

Zulkipli menyatakan pada periode Maret 2018-September 2018 persentase penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 736 orang atau dari 99.195 orang di Maret 2018 menjadi 98.459 orang di September 2018.

Sementara di daerah perdesaan juga mengalami penurunan sebanyak 5.577 orang atau dari 32.480 orang di Maret 2018 menjadi 26.903 orang di September 2018. Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan, seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Menurutnya sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada September 2018 tercatat sebesar 66,83 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan Maret 2018 yaitu sebesar 67,48 persen.

"Kedepan kita harus menjaga stabilitas harga pangan beras, telur, dan ayam ras. Karena itu  sangat berpengaruh terhadap angka kemiskinan," sebutnya.

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Apabila dibandingkan antara daerah perkotaan dan perdesaan, nilai indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan di daerah perdesaan lebih tinggi dibanding perkotaan.

"September 2018 indeks kedalaman kemiskinan perkotaan 0,505 persen, perdesaan 1,286 persen. Indeks keparahan kemiskinan perkotaan 0,093 persen, perdesaan 0,224 persen," paparnya.

Untuk mengukur tingkat kemiskinan, BPS menggunakan pendekatan kebutuhan dasar yang meliputi dua kategori, yakni dari sisi makanan dan non makanan. Dari sisi makanan, BPS mengukur tingkat kalori sebesar 2100 kalori yang diikuti oleh 52 komoditas. Non makanan diukur dari 51 komoditas di perkotaan dan 47 komoditas di perdesaan.

"Dari sana bisa dilihat kebutuhan dasar masyarakat miskin yang kita data dari hasil Susenas September 2018," ungkapnya. (Antara)
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar