Lingga berduka kehilangan tokoh sentral budaya Melayu

id Lingga berduka kehilangan tokoh sentral budaya melayu

Almarhum Said Abdul Hamid (Ist)

Saat terbaring lemah, berapa kali dia mengenal dan sesekali memanggil dan menyebut nama saya. Sayapun dan isteri masih sempat bercanda dengan almarhum, karna sudah sangat akrab
Lingga (ANTARA) - Kabupaten Lingga kembali kehilangan tokoh  yang selama ini, cukup banyak memberikan referensi tentang budaya Melayu dan merupakan kolektor benda-benda bersejarah  yakni Said Abdul Hamid, di usia yang pada tanggal 3 April ini genap 69 tahun.

Almarhum meninggal di Rumah Sakit Encik Maryam Daik Lingga, Rabu (03/04) malam.

"Beliau merupakan pensiunan staf tata usaha SMP Negeri 1 Daiklingga, dan pernah menjadi tenaga honorer di salah satu sekolah dasar (SD) tertua di Daik Lingga," kata ketua LAM Kabupaten Lingga Dato Muhammad Ishak, kepada Antara, Kamis.

Semasa hidupnya Said Abdul Hamid menjadi salah satu narasumber dan pemerhati yang sangat peduli dengan kebudayaan Melayu. 

"Beliau itu sangat paham dan tunak dengan adat dan budaya Melayu Lingga," sebutnya.

Selain itu almarhum juga di kenal sebagai kolektor barang-barang benda cagar budaya ragawi yang mulai di tekuninya sejak tahun 60-an, dan semakin optimal ditekuni pria yang dikenal periang ini pada tahun 1998. Koleksinya banyak diserahkannya ke Museum Linggam Cahaya, Daiklingga.

Tidak lengkap kiranya bagi sejarahwan peneliti, budayawan, mahasiswa, pelajar, tokoh-tokoh budaya dan para tetamu baik dari dalam, maupun luar negeri jika belum berkunjung ke rumah almarhum, ketika ingin bertanya-tanya tentang sejarah dan budaya Melayu di Kabupaten Lingga yang merupakan Bunda Tanah Melayu.

"Bahkan kami sendiri dari LAM dan Dinas Kebudayaan bila mau menyusun buku-buku tentang adat dan budaya Melayu tetap menjadikan almarhum sebagai narasumber utama," ucap Datok Muhammad Ishak, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga.

Di tambahkan Muhammad Ishak, kiprah almarhum tentang budaya Melayu dan masyarakat Lingga begitu kental hal ini berlangsung sejak Kabupaten Lingga belum terbentuk, almarhum selalu menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengadu jika ingin melangsungkan acara-acara adat.

"Jika ada kegiatan adat perkawinan yang ingin menuruti benar adat Melayu, alamarhum jadi tempat untuk mengadu dan tempat untuk meminjam peralatan yang dibutuhkan untuk adat tersebut," jelasnya.

Almarhum telah meninggalkan banyak ilmu pengetahuan tentang adat dan budaya Melayu yang telah di tularkan kepada masyarakat, peneliti maupun penulis-penulis tentang sejarah kebudayaan Melayu.

Almarhum Said Abdul Hamid di mata Ketua LAM Lingga

"Saya sendiri pernah jadi murid beliau sewaktu di SD 01 Daik, di siplinnya tinggi dan tunak dalam tradisi lisan terutama tentang cerita-cerita rakyat dan teater bangsawan," ujar  Ishak..

Muhammad Ishak mengaku, dirinya sendiri banyak mendapatkan nasihat dari almarhum yang menjadi sosok yang sangat di seganinya dalam referensi sejarah adat dan budaya.. Sosok Said Abdul Hamid sangat memegang keras tentang etika, budaya sopan santun dan memberikan motivasi pendidikan ketika dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Bahkan hubungan tersebut terus berlanjut, ketika dirinya menjadi pejabat publik saat di percayakan sebagai Camat Lingga yang menjadi Ibukota Kabupaten Lingga, kemudian dipercayakan sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lingga, hingga kini di amanahkan menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga.

"Almarhum juga ketika masih sehat tetap hadir memenuhi jemputan ke rumah saya bila mengadakan hajat, seperti acara khataman dan lain-lain," kisah Muhammad Ishak, dengan lirih.

Budayawan Lingga ini mengaku, terakhir kali membesuk almarhum pada tanggal 1 April 2019, atau tepatnya beberapa hari ketika almarhum di rawat di Rumah Sakit Encik Mariam Daik Lingga. Walaupun saat itu  kondisi almarhum sudah mulai melemah namun ingatannya terhadap dirinya sangat kuat. 

"Saat terbaring lemah, berapa kali dia mengenal dan sesekali memanggil dan menyebut nama saya. Sayapun dan isteri masih sempat becanda dengan almarhum, karena sudah sangat akrab," sebutnya.

Untuk mengenang jasa-jasa almarhum  Ishak mengajak segenap masyarakat yang mengenal maupun yang tidak mengenal beliau untuk bersama-sama mendoakan agar darmabakti yang telah diberikan almarhum selama ini kepada kita semua dapat menjadi amal ibadah beliau di hari akhir. 

"Selamat jalan Pak Amed, semoga khusnul khatimah, Al fatihah," tutupnya. (Antara)
 
Pewarta :
Editor: Kabiro kepri
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar