Penambangan pasir laut resahkan warga Pulau Terung

id Tambang pasir laut, kapolsek belakangpadang

Kapolsek Belakangpadang, AKP Ulil Rahim. (ANTARA/Pradanna Putra Tampi)

Salah satu aspek yang dikeluhkan itu ialah lokasi yang berdekatan dengan tempat penangkapan ikan. Kalau sampai terjadi maka akan mengganggu mata pencarian nelayan setempat,
Batam (ANTARA) - Masyarakat di Pulau Terung Kecamatan Belakangpadang resah terhadap aktivitas penambangan pasir laut di wilayah setempat, yang diprakarsai oleh PT Riau Pratama.

Kapolsek Belakangpadang, AKP Ulil Rahim saat ditemui di Mapolresta Barelang Kota Batam, Rabu, mengimbau semua pihak untuk menahan diri karena persoalan tersebut masih akan dikaji oleh pemangku kepentingan yang berwenang.

"Perusahaan kami minta untuk tidak beraktivitas saat ini agar suasana kondusif," tegas Ulil.

Ulil menyatakan masyarakat Pulau Terung pun juga berkomitmen menjaga situasi kondusif, dan tidak terjadi kerusuhan di wilayah setempat akibat adanya penambangan pasir laut yang telah berlangsung sejak lama.

"Oleh karena itu, hari ini kita fasilitasi warga untuk meminta informasi soal aktivitas penambangan tersebut dari 'stakeholder' terkait. Pak Kapolresta langsung yang memimpin rapat terbatas tersebut," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan saat ini tuntutan dari masyarakat ialah tidak ada aktivitas penambangan terlebih dahulu. Masyarakat masih memikirkan dampak lingkungan secara perizinan, baik dari sisi teknis dan ekonomis, agar kedepannya tidak bermasalah terhadap lingkungan mereka.

"Salah satu aspek yang dikeluhkan itu ialah lokasi yang berdekatan dengan tempat penangkapan ikan. Kalau sampai terjadi maka akan mengganggu mata pencarian nelayan setempat," kata Kapolsek.

Kapolsek juga menegaskan, hingga kini kapal yang hendak digunakan untuk aktivitas penambangan itu tidak ditangkap, tetapi mendapat penolakan dari warga saat akan menuju ke titik penambangan pasir laut tersebut.

"Kapal itu sebenarnya juga belum beroperasional. Namun karena warga menolak, kita koordinasikan sama pihak perusahaan untuk segera menariknya. Dan kini, informasi yang kita dapat, kapal tersebut berada di perairan Pulau Sambu," jelasnya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar