Waduk Gesek Bintan kembali normal usai hujan

id Waduk Gesek Bintan, kembali, normal,setelah,hujan

Kondisi Waduk Gesek, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau dua pekan lalu (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Waduk Gesek yang berlokasi di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau yang selama ini dikelola dan sebagai sumber air PDAM Tirta Kepri kembali normal setelah sempat mengalami kekeringan.

"Hujan deras selama dua hari pada pekan lalu menyebabkan air di Waduk Gesek naik. Kondisi kembali normal, meski untuk beberapa saat," kata Plh Direktur PDAM Tirta Kepri, Budi Yadi di Tanjungpinang, Senin.

Volume air di Waduk Gesek saat ini mencapai 1,8 meter. Sebelum hujan, air di waduk itu hanya tinggal 70 CM sehingga terlihat tanah pada dasar waduk.

Sementara kondisi Sei Pulai, Bintan juga mulai membaik sejak hujan selama dua hari tersebut. Volume air di Sei Pulau mencapai 2,8 meter.

"Dalam kondisi normal, volume air di Sei Pulai mencapai 4,24 meter," katanya.

Yudi berharap bulan ini turun hujan. Jika tidak hujan, maka krisis air kembali terjadi lagi.

"Tahun ini sudah dua kali kita mengalami krisis air akibat tidak turun hujan. Pertama pada awal 2019, dan kedua pada Agustus 2019," ucapnya.

Ia menjelaskan volume air waduk Gesek dalam kondisi normal hanya dua meter. Pendalaman waduk yang diusulkan sejak tahun lalu kepada Balai Wilayah Sungai sampai sekarang belum terealisasi.

"Rumput di waduk yang menyebabkan pendangkalan juga belum dibuang. Sudah diusulkan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS), tetapi katanya tahun depan dilaksanakan setelah diusulkan, karena membutuhkan anggaran yang cukup besar," ujarnya.

Waduk ini tidak memiliki mata air yang baik, karena hutan di sekitar waduk dalam kondisi rusak akibat dirambah untuk kepentingan perkebunan dan lainnya.

"Kami tidak bisa melarang mereka berkebun, karena tidak memiliki wewenang," ucapnya.

Selama ini, kata dia Waduk Gesek maupun Sei Pulai hanya menampung air hujan. Jika tidak terjadi hujan, air pun kering.

Jumlah pelanggan PDAM Tirta Kepri saat ini sekitar 17 ribu rumah, dengan kebutuhan air 230 liter/detik.

"Kondisi sekarang dapat dikategorikan krisis air, karena masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air bersih," katanya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar