Isdianto prihatin banjirnya produk impor

id Produk asing,digemari,masyarakat, Tanjungpinang

Isdianto prihatin banjirnya produk impor

Peralatan rumah tangga asal Singapura digunakan warga Tanjungpinang (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Pelaksana Tugas Gubernur Kepri Isdianto prihatin produk impor membanjiri Kepri, khususnya Tanjungpinang sejak dahulu, karena Singapura dan Malaysia merupakan tetangga Kepri.

Namun ia mengingatkan masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri. "Produk asing yang masuk ke Kepri harus memiliki ijin, tidak boleh dijual secara ilegal karena merugikan negara," katanya.

Produk kebutuhan pribadi maupun rumah tangga yang berasal dari berbagai negara digemari masyarakat Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, meski tidak memiliki label Stadar Nasional Indonesia (SNI).

"Saya menyukai produk dari Singapura dan Malaysia, karena bagus, tahan lama dan kemasannya menarik," kata Nita, sala seorang warga di Tanjungpinang, Rabu.

Harga pakaian yang diimpor dari Singapura maupun produk lainnya rata-rata lebih mahal dibanding produk yang berasal dari Jakarta dan Bandung. Begitu pula dengan produk makanan yang berasal dari Malaysia dan Singapura, harganya lebih mahal dibanding produk nasional.

Produk makanan, khususnya memiliki label ijin impor.

"Kami sejak dahulu sudah terbiasa mengonsumsi makanan kemasan dari Singapura. Rasanya memang beda dibanding produk nasional," ucap Lisa.

Sementara produk mainan anak-anak dan kebutuhan rumah tangga dari China dijual murah di sejumlah toko di Tanjungpinang. Bahkan ada toko yang berani menjual produk tanpa label SNI itu dengan harga rata-rata Rp10.000.

"Harganya jauh lebih murah dibanding produk lokal dan nasional. Kami beli meskipun kurang berkualitas," tutur Lili.
 
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar