Golkar tunggu hasil survei untuk usung calon gubernur

id Golkar, tunggu,hasil survei,Pilkada Kepri

Golkar tunggu hasil survei untuk usung calon gubernur

Ketua DPD Partai Golkar Kepri Ansar Ahmad mendaftar sebagai calon gubernur di Partai Gerindra (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Partai Golkar belum memutuskan siapa kader atau politisi yang diusung pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), karena masih menunggu hasil survei.

Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kepri Suyono, di Tanjungpinang, Senin, mengatakan, survei akan dilakukan pada Januari 2020, dan hasilnya disampaikan kepada DPP Partai Golkar sebulan setelah survei dilakukan.

Biasanya, kata dia, Partai Golkar menggunakan Indo Barometer dan Lembaga Survei Indonesia untuk mendapatkan data popularitas dan elektabilitas kandidat yang potensial diusung pada pilkada.

"Kami belum memutuskan lembaga survei yang digunakan. Hasil survei akan disampaikan ke pusat, kemudian diputuskan siapa pasangan calon gubernur dan dan wakil gubernur yang diusung," ucapnya.

Suyono mengemukakan kondisi politik pilkada masih "cair", karena pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur dilaksanakan Juni 2020. Perubahan strategi dan kondisi politik dapat berubah menjelang tahapan pendaftaran tahapan pilkada.

Golkar belum memutuskan apakah mengusung Ketua DPD Partai Golkar Kepri Ansar Ahmad sebagai calon gubernur atau tidak. Dalam Munas Golkar baru-baru ini juga tidak menyentil soal pilkada, termasuk pilkada di Kepri.

Suyono juga membantah isu yang beredar bahwa Golkar memiliki dua alternatif dalam menghadapi Pilkada Kepri 2020. Pertama mengusung Ansar Ahmad, dan kedua mengusung Ismeth Abdullah.

Menurut dia, seluruh kader Partai Golkar sudah melaksanakan mekanisme pencalonan. Kader yang mendaftar di Partai Golkar tidak hanya Ansar dan Ismeth, melainkan juga ada Raja Syahniar, Raja Bachtiar, dan Taba Iskandar.

"Golkar itu memiliki banyak kader potensial. Siapa yang dipilih? Tergantung keputusan DPP Golkar," katanya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar