Limbah sebabkan matinya ikan di perairan Kawal Bintan

id Perairan, Kawal Bintan, rutin, tercemar limbah

Limbah sebabkan matinya ikan di perairan Kawal Bintan

Salah seorang nelayan tradisional di Kawal, Bintan (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Perairan di Kawal, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, setiap akhir tahun rutin tercemar limbah hingga menyebabkan ribuan ikan mati mendadak.

Salah seorang nelayan, Yoyok, di Kawal, Rabu mengatakan pencemaran limbah terparah terjadi pada akhir Tahun 2019.

"Setiap akhir tahun, seperti yang terjadi baru-baru ini, ada kiriman limbah di perairan tempat kami mencari nafkah. Ikan dan kepiting banyak yang mati," ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai pencari kepiting (ketam) itu.

Yoyok mengungkapkan limbah tersebut berwarna biru, bahkan air di Perairan Kawal juga tampak membiru.

Ikan mengapung seketika itu, dan banyak warga sekitar yang mengambil ikan yang mengapung tersebut.

Pencemaran di perairan itu juga menyebabkan ketiping mati. Hal itu menyebabkan nelayan penangkap kepiting mengalami kesulitan menangkap buruannya.

"Saya tidak mengetahui pasti siapa yang membuang limbah ini ke perairan, tetapi ini setiap akhir tahun ada," katanya.

Yoyok mengatakan petugas dari pemerintah sudah mengambil sampel air yang tercemar limbah, namun sampai sekarang belum diketahui apa hasilnya.

"Kami kehilangan mata pencarian selama berminggu-minggu," ujarnya.

Menanggapi permasalahan itu, Kapolres Bintan AKBP Boy Herlambang mengatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait informasi tersebut.

"Kami akan mendalami permasalahan itu untuk mengetahui sumber limbah tersebut," katanya.

Boy menegaskan pihaknya akan melindungi perairan Bintan, dan melindungi kepentingan nelayan.

"Jangan sampai aktivitas nelayan terganggu akibat limbah," katanya.

Baca juga: Lantamal: Kapal asing sengaja buang limbah minyak di Bintan

Baca juga: Kepri berharap pemerintah pasang citra satelit pantau limbah minyak

Baca juga: Gara-gara limbah minyak hitam, sejumlah turis kapok ke Bintan
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar