Siswa SD-SMP di Tanjungpinang butuh perangkat penunjang belajar daring

id Belajar online

Siswa SD-SMP di Tanjungpinang butuh perangkat penunjang belajar daring

Dokumen - Siswa di Jawa Barat belajar di rumah, Selasa (17/03/2020), saat sekolah diliburkan sementara guna meminimalkan risiko penularan COVID-19. ANTARA/M Agung Rajasa

Tanjungpinang (ANTARA) - Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau Atmadinata mengatakan siswa SD-SMP di daerah tersebut membutuhkan bantuan peralatan tablet (gaway) untuk menunjang pelaksanaan belajar online atau daring.

Admadinata di Tanjungpinang Kamis menyatakan dari hasil evaluasi penerapan belajar online yang diterapkan sejak pertengahan bulan Maret 2020 ternyata belum maksimal, akibat tidak semua siswa memiliki alat pendukung atau media pembelajaran online, misalnya tablet.

"Siswa butuh bantuan alat tablet. Tidak perlu mahal, yang murah saja. Kalau guru kan sudah punya, masalahnya di siswa," kata Admadinata.

Adma menyatakan bahwa tidak semua peserta didik berasal dari latar belakang keluarga dengan ekonomi menengah ke atas, maka itu bantuan dari pemerintah sangat diperlukan.

Dia katakan sebenarnya pada tahun 2019 pihaknya telah membuat pengadaan bantuan tablet yang diperuntukkan bagi siswa di tahun 2020.

Namun, lanjut dia, pengadaan tablet itu tidak dapat terealisasi karena Pemkot Tanjungpinang melakukan refocusing anggaran untuk penanganan COVID-19.

"Mestinya di tahun 2020 sudah terealisasi, kalau bukan karena COVID-19," tuturnya.

Pemkot Tanjungpinang kembali memperpanjang kegiatan masa belajar di rumah bagi PAUD, TK, SD dan SMP hingga 26 Juni 2020.

Perpanjangan belajar di rumah dilakukan dalam masa tanggap darurat penyebaran COVID-19 di Kota Tanjungpinang.

Hal itu diketahui berdasarkan Surat Edaran Wali Kota Tanjungpinang Rahma, Nomor 422.1/733/5.3.01/2020 tentang kegiatan belajar dari rumah.

Dalam surat edaran tersebut, Rahma menyampaikan dalam melaksanakan pembelajaran di rumah, tenaga pendidik diminta sebaiknya tidak terfokus pada pembelajaran dan penilaian kognitif (pengetahuan) saja.

Akan tetapi, harus menyeimbangkan aspek afektif (perasaan, sikap dan nilai) dan keterampilan yang berbasis pendidikan karakter.

Kemudian, mendorong para pendidik agar lebih kreatif menjalankan pembelajaran jarak jauh dari rumah dengan tidak fokus pada kompetensi akademik semata.

Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar