Macron jadi tuan rumah konferensi donor untuk Lebanon

id Presiden Prancis Emmanuel Macron,bantuan darurat untuk Lebanon,ledakan Beirut

Macron jadi tuan rumah konferensi donor untuk Lebanon

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengangkat tangannya ke arah penduduk saat ia mengunjungi jalanan rusak di Beirut, Lebanon, Kamis (6/8/2020). ANTARA FOTO/Thibault Camus/Pool via REUTERS/aww/cfo

Paris (ANTARA) - Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi tuan rumah bagi Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin politik lainnya dalam konferensi donor melalui video yang didukung PBB, Minggu, untuk meningkatkan bantuan darurat bagi Lebanon pascaledakan di Beirut.

Macron mengunjungi Beirut pada Kamis (6/8), dan merupakan pemimpin dunia pertama yang melakukannya setelah ledakan itu.

Ia berjanji kepada rakyat Lebanon bahwa bantuan kemanusiaan akan datang tetapi reformasi politik yang mendalam diperlukan untuk menyelesaikan masalah negara itu dan agar mendapatkan dukungan jangka panjang.

"Saya jamin, bantuan (rekonstruksi) ini tidak akan sampai ke tangan koruptor," kata Macron kepada orang banyak yang menyambutnya.

Curahan simpati untuk Lebanon mengalir  dari seluruh dunia minggu ini dan banyak negara telah mengirimkan bantuan kemanusiaan langsung seperti pasokan medis. Tetapi, sejauh ini komitmen bantuan belum ada.

Trump akan berpartisipasi dalam konferensi video tersebut.

"Semua orang ingin membantu!" cuitnya melalui Twitter.

Jerman akan memberikan tambahan 10 juta euro (sekitar Rp173,4 miliar) untuk bantuan darurat, selain sumbangan penyelamatan yang sedang meluncur, kata menteri luar negerinya.

Seorang asisten Macron menolak untuk menetapkan target konferensi. Bantuan darurat dibutuhkan untuk rekonstruksi, bantuan makanan, peralatan medis dan sekolah, serta rumah sakit, kata pejabat itu.

Perwakilan dari Inggris, Uni Eropa, China, Rusia, Mesir, dan Yordania diharapkan bergabung dalam konferensi tersebut, yang diselenggarakan oleh Macron dari kediaman musim panasnya di French Riviera.

Israel dan Iran tidak akan ambil bagian, kata pejabat Istana Elysee.

Lebanon telah terperosok ke dalam krisis politik dan ekonomi yang dalam ketika ledakan dahsyat menghancurkan pelabuhan utamanya pada Selasa (4/8), menewaskan 158 orang, melukai lebih dari 6.000 orang, dan menghancurkan sebagian kota.

Membangun kembali Beirut bisa menghabiskan miliaran dolar. Para ekonom memperkirakan ledakan itu bisa menghapus hingga 25 persen PDB negara itu.

Banyak warga Lebanon marah atas respon pemerintah dan mengatakan bencana itu menyoroti kelalaian elit politik yang korup. Para pengunjuk rasa menyerbu kementerian pemerintah di Beirut dan menghancurkan kantor Asosiasi Bank Lebanon pada Sabtu (8/8).

Sumber: Reuters 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar