Inflasi Kepri September 2020 diprediksi -0,05 - 0,05 persen

id BI inflasi Kepri

Inflasi Kepri September 2020 diprediksi -0,05 - 0,05 persen

Pasar tradisional di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Bahan pokok sembako diprediksi jadi salah satu penyumbang inflasi bulan September 2020 di daerah tersebut. (ANTARA/Ogen)

Tanjungpinang (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada September 2020 pada kisaran -0,05 - 0,05% (month to month) atau 0,19% - 0,29% (year on year) .

Kepala Tim Pengembangan Ekonomi BI Perwakilan Kepri, Gunawan menyampaikan beberapa tekanan inflasi yang perlu diwaspadai yakni tarif angkutan udara berpotensi mengalami peningkatan untuk mengompensasi pembatasan kapasitas penumpang dan peningkatan permintaan.

Kemudian, cabai merah dan rawit seiring dengan keterbatasan stok dan selesainya musim panen di sentra penghasil, beras premium di tingkat penggilingan, sayuran dan ikan segar yang dipengaruhi curah hujan yang meningkat, serta harga emas perhiasan sejalan kenaikan harga emas dunia.

"Penyebaran COVID-19 yang masih berlangsung diperkirakan akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan menahan permintaan," kata Gunawan melalui rapat koordinasi TPID secara virtual di kantor Wali Kota Tanjungpinang, Sabtu.

Khusus Kota Tanjungpinang, Gunawan menilai periode inflasi masih sangat rendah dan jauh dari sasaran baik bulanan maupun tahunan, karena jumlah permintaan sangat rendah karena situasi COVID-19. Sehingga konsumsi masyarakat hanya bertahan.

"Meski inflasi cukup rendah, tetapi akan ada potensi risiko inflasi Kepri di bulan September 2020," tuturnya.

Kepala BPS Kota Tanjungpinang, Mangamputua Gultom, menjelaskan, pada Agustus 2020 Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 0,12%.

Inflasi terjadi karena didorong adanya kenaikan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,06%. Kemudian juga diikuti kelompok pendidikan 1,61%, transportasi 0,93%.

"Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar -0,20%," jelas Gultom.

Selain itu, kata Gultom, beberapa komoditas dominan yang memberi andil inflasi yaitu, emas perhiasan 0,11%, angkutan udara 0,10%, cabai merah 0,04%, biaya SMA 0,03%, dan biaya SD 0,02%.

"Komoditas lainnya seperti, ikan selar, minyak goreng, susu bubuk balita, rokok kretek filter, makanan ringan, upah asisten rumah tangga, juga memberikan andil inflasi," sebutnya.

Sementara, Kepala Bulog Kota Tanjungpinang, Hendra memastikan stok beras masih tersedia 1.150 ton. Pihaknya juga sedang mengajukan permintaan beras sebanyak 1.000 ton guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Tanjungpinang.

"Saat ini, pendistribusian untuk RPK saja 60 ton per bulan. Ini belum lagi kita distribusikan ke distributor. Artinya, beras Bulog masih sangat diminati masyarakat Tanjungpinang di lingkungan RPK," ucap Hendra.

 

 

Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar