Asrama Haji di Batam akan jadi lokasi karantina

id updata covid batam,pekerja kawasan industri batam positif covid, klaster muka kuning batam,klaster kawasan industri bata

Asrama Haji di Batam akan jadi lokasi karantina

Sejumlah pekerja melalui spanduk sosialisasi COVID-19 perusahaan di kawasan industri Kota Batam Kepulauan Riau, Kamis (1/10). Himpuan Kawasan Industru menyetujui tes usap COVID-19 kepada seluruh pekerja demi memutus mata rantai penularan virus corona. (Naim)

Batam (ANTARA) - Pemerintah Kota Batam menyiapkan ruangan inap di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) dan Asrama Haji setempat, sebagai lokasi karantina untuk kasus terkonfirmasi positif COVID-19, selain sejumlah rumah sakit rujukan dan rumah susun.

"Kami siapkan di Bapelkes juga," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi di Batam, Kepulauan Riau, Jumat.

Ia menyebutkan Bapelkes memiliki ruang-ruang layaknya hotel, dan dapat menampung sekitar 130 orang.

Sedangkan Asrama Haji, satu bloknya bisa menampung 200 hingga 300 orang.

"Kami sudah siapkan 'back up plan'," kata Didi.

Tambahan ruang perawatan karantina warga terkonfirmasi positif COVID-19 dibutuhkan, untuk menjawab permintaan pengusaha dan Himpunan Kawasan Industri.

HKI berencana melakukan tes usap COVID-19 terhadap seluruh pekerja di kawasan industri anggotanya, demi mengetahui kondisi kesehatan sekaligus upaya meminimalkan potensi penularan di lingkungan perusahaan.

Namun, seiring dengan pelaksanaan tes usap, maka dibutuhkan lokasi karantina, sebagai bentuk antisipasi penanganan pekerja yang dinyatakan positif COVID-19.

"Yang belum siap tempat, karena di kawasan bisa habis. Kalau ada bantuan pemerintah di tempat kosong, hotel atau perumahan. Kalau ada disiapkan," kata Ketua HKI Kepri, Oka Simatupang.

Ia menyatakan pengusaha kesulitan bila harus membiayai karantina pekerja terkonfirmasi positif COVID-19 di hotel, karenanya ia berharap bantuan dari pemerintah.

"Tetap kita harap bantuan dari pemerintah. Bantuan itu bukan hanya uang. Tapi bisa fasilitas, ongkos yang ditekan," kata dia.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar