Para dubes kenalkan MIKTA ke mahasiswa Afrika Selatan

id MIKTA,Afrika Selatan,KBRI Pretoria,Johannesburg South Africa,Witwatersrand University,Witwatersrand University Johannesburg,Institute for Global Dialo

Duta Besar RI untuk Afrika Selatan Salman Al Farisi (ketiga dari kiri) menjadi pembicara pada seminar bertema "What is MIKTA and Why It Matters?" di Witwatersrand University, Johannesburg, Afrika Selatan pada Selasa (3/9/2019). ANTARA/KBRI Pretoria/am.

Jakarta (ANTARA) - Para duta besar negara anggota MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia) menyelenggarakan seminar untuk memperkenalkan MIKTA kepada para mahasiswa di Afrika Selatan.

Para dubes negara MIKTA itu bekerjasama dengan lembaga think-tank terkemuka South African Institute of International Affairs (SAIIA) mengadakan seminar bertema "What is MIKTA and Why It Matters?" di Witwatersrand University, Johannesburg.

Kegiatan itu menghadirkan lima kepala perwakilan negara-negara MIKTA di Afrika Selatan dan mengundang mahasiswa, akademisi, dan media setempat, menurut keterangan tertulis dari KBRI Pretoria yang diterima di Jakarta, Rabu.

Seminar itu bertujuan untuk mendekatkan MIKTA kepada publik Afrika Selatan serta mencoba mengidentifikasi kerja sama yang potensial untuk dilakukan di masa depan antara negara anggota MIKTA dan Afrika Selatan.

Duta Besar RI untuk Afrika Selatan Salman Al Farisi pun turut mengisi seminar mengenai MIKTA yang dilaksanakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada 3 September 2019.

"Dari kegiatan yang kami koordinasikan selama Keketuaan MIKTA tahun 2018, dapat dilihat perhatian Indonesia yang besar pada isu kepemudaan. Kami mendatangi kampus dan mengedepankan agenda-agenda ekonomi kreatif dan digital yang erat kaitannya dengan anak muda. Kami berharap MIKTA dan Afrika Selatan di masa mendatang dapat mengeksplorasi kerja sama di bidang ini," ujar Dubes Salman.

Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, Dubes RI berkesempatan menjawab pertanyaan dari mahasiswa mengenai kelebihan dan kekurangan MIKTA terkait letak geografis negara-negara anggotanya yang begitu beragam.

Dubes Salman menekankan bahwa keragaman lokasi, latar belakang sejarah, agama dan tahapan pembangunan, telah membekali MIKTA dengan pengalaman yang saling melengkapi serta sensitivitas kultural yang legit ketika membahas suatu isu.

Hal itu, menurut dia, menjadi kelebihan MIKTA sebagai negara-negara kekuatan menengah (middle power) dalam menghadapi fenomena unilateralisme yang seringkali dihadapi di fora internasional yang lebih besar.

Sementara itu, Duta Besar Meksiko menjelaskan latar belakang berdirinya MIKTA serta ciri fleksibilitas dan informalitas klub diplomasi itu dalam membahas isu-isu yang terkait kepentingan bersama.

Meksiko yang menjadi Ketua MIKTA pada 2019 juga menetapkan tiga prioritas selama masa keketuaannya, yaitu pembangunan sosial, tata-kelola global dan masa depan yang berkelanjutan.

Pengamat dari Institute for Global Dialogue (IGD) Francis Kornegay membagi kajiannya atas MIKTA dengan menyatakan bahwa kehadiran MIKTA tepat saat konstelasi global membutuhkan pemecah kebuntuan diplomasi.

MIKTA relatif dianggap sebagai pembawa aspirasi yang berintegritas dengan latar belakang kekuatan ekonomi yang seimbang.

Para Kepala Perwakilan negara-negara MIKTA mengakhiri seminar dengan menyampaikan kesediaan untuk membuka diri dan menjalin kerja sama lebih lanjut dengan berbagai pihak di Afrika Selatan.
Baca juga: Indonesia berupaya "membumikan" MIKTA
Baca juga: Pertemuan MIKTA ke-14 bahas penanganan isu global
Baca juga: Meksiko fokus pada kesejahteraan sosial sebagai ketua MIKTA 2019

Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar