Gempa di Laut Maluku punya sejarah merusak

id Gempa Maluku Utara,Gempa Maluku,Gempa bumi,BMKG

ILUSTRASI: Gempa magnitudo gunjang Maluku Utara. ANTARA/Infografis/am.

Jakarta (ANTARA) - Gempa bumi kuat di Laut Maluku bukan hanya sekali terjadi seperti pada Kamis (14/11) malam namun punya sejarah beberapa kali terjadi menimbulkan kerusakan termasuk tsunami.

"Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Laut Maluku beberapa kali terjadi gempa kuat dan merusak," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Jumat.

Seperti Gempa Sangir 1 April 1936 adalah catatan gempa dahsyat yang pernah terjadi di zona yang sama karena guncangannya mencapai skala intensitas VIII - IX MMI yang merusak ratusan rumah.

Baca juga: 110 kali gempa bumi susulan terjadi di Laut Maluku

Selain itu, Gempa Pulau Siau pada 27 Pebruari 1974 juga memicu longsoran dan kerusakan banyak rumah di berbagai tempat. Terakhir adalah Gempa Sangihe-Talaud pada 22 Oktober 1983, dimana gempa merusak banyak bangunan rumah.

Zona sumber gempa Laut Maluku juga memiliki catatan sejarah tsunami destruktif, seperti tsunami Banggai-Sangihe 1858 yang menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami.

Baca juga: BMKG sebut gempa Malut akibat penyesaran dalam lempeng laut

Lalu tsunami Banggai-Ternate 1859 mengakibatkan banyak rumah di pesisir disapu tsunami, Gempa Kema-Minahasa 1859 juga memicu tsunami setinggi atap rumah-rumah penduduk.

Selain itu juga tercatat tsunami Gorontalo 1871 menerjang di sepanjang pesisir Gorontalo, tsunami Tahuna 1889 menerjang kawasan pesisir Tahuna setinggi 1,5 meter.

Serta tsunami Kepulauan Talaud 1907 menerjang pantai setinggi empat meter, dan tsunami Salebabu 1936 menyapu pantai setinggi tiga meter.

Selain sejarah gempa dan tsunami masa lalu, catatan terbaru gempa kuat di Laut Maluku cukup banyak. Sebagian besar di antaranya berpotensi tsunami, seperti yang pernah terjadi pada 1979 dengan magnitudo 7,0.

Pada 1986 bermagnitudo 7,5, 1989 dengan magnitudo 7,1, 2001 magnitudo 7,0, 2007 magnitudo 7,5, pada 2009 magnitudo 7,1, di 2014 magnitudo 7,3 serta dua kali pada 2019 masing-masing magnitudo 7,0 dan magnitudo 7,1 pada Kamis (14/11)malam.

Gambaran kerangka tektonik, aktivitas kegempaan, dan sejarah tsunami di atas kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa kawasan Laut Maluku memang merupakan zona yang sangat rawan gempa dan tsunami.

Kondisi tektonik aktif dan kompleks ini tentu perlu mendapat perhatian khusus dan serius termasuk tantangan untuk merancang sistem mitigasi yang tepat untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi dan tsunami yang berpotensi terjadi di wilayah ini, ujar Daryono.

Baca juga: Gempa magnitudo7,1, Wali Kota Bitung imbau warga tetap tenang
 

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar