Kowani : Peringatan Hari Ibu bukan mengikuti kebiasaan barat

id Peringatan hari ibu, ketua umum kongres wanita Indonesia, Giwo Rubianto Wiyogo

Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo menyerahkan plakat penghargaan di Jakarta, Jumat. (Dok pri)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan peringatan Hari Ibu di Tanah Air bukan sekadar latah mengikuti kebiasaan masyarakat barat dengan peringatan Mother Day.

"Namun peringatan Hari Ibu merupakan momen sejarah yang sangat penting, karena Hari Ibu diusulkan Kowani langsung kepada Presiden Soekarno," ujar Giwo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Iriana Joko Widodo hadiri jalan sehat peringati Hari Ibu

Dia menambahkan pada 1938 hasil kongres ke 3 menetapkan Hari Ibu dengan diikuti Keppres 1959 oleh Pesiden Soekarno.
Penegasan Giwo disampaikan terkait masih adanya penilaian dari tokoh agama yang menilai peringatan Hari Ibu tidak perlu dilakukan masyarakat, karena hanya mengikuti kebiasaan masyarakat barat.

"Saya rasa perlu diperjelas bahwa peringatan Hari Ibu itu sangat penting, karena upacara peringatan Hari Ibu sebagai kilas balik peristiwa sejarah 91 tahun lalu dan untuk mengenang jasa founding mother. Selain itu justru peringatan Hari Ibu karena adanya usulan dari Kowani," kata Giwo.

Masyarakat dan semua kalangan, lanjut Giwo, termasuk tokoh agama harus memahami hal ini karena banyak yang belum paham tentang peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.

Pada tahun ini, peringatan Hari Ibu akan diselenggarakan Kowani, dengan melakukan upacara pengibaran bendera merah putih di halaman kantor Kowani, di jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Uniknya pada peringatan Hari Ibu tahun ini, setiap anggota Kowani mengenakan kebaya.

"Kami sengaja menggunakan kebaya untuk mengingatkan kembali bahwa kebaya juga merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan. Kebaya juga mengingatkan perjalanan tokoh pejuang perempuan," terang dia.

Baca juga: Kota Lama Semarang pusat peringatan Hari Ibu 2019 tingkat nasional

Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa umur Kowani jauh lebih tua dari umur kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa itu tahun 1928, Kowani tumbuh dan bergerak serta berkiprah hampir bersamaan dengan Gerakan Sumpah Pemuda.

“Peringatan 22 Desember itu kan peringatan hari sejarah jadi memang kita harus memperingatinya," seru dia.

Peringatan Hari Ibu juga mengingatkan kembali tentang sosok seorang Ibu sebagai Ibu bangsa, yang memiliki tanggung jawab dan peran dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas.

Giwo juga mengingatkan generasi bangsa haruslah memberikan penghormatan kepada seorang ibu, juga bapak dan guru. Tidak hanya orang tua sendiri, namun penghormatan kepada seseorang yang lebih tua itu merupakan hal yang harus dilakukan dan dijaga tradisinya, seperti semua agama mengajarkan penghormatan kepada orang tua.***3***

Baca juga: Menteri Bintang minta organisasi perempuan berdayakan perempuan

Pewarta : Indriani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar