Merawat hutan di Bangka Barat melalui budi daya madu

id madu kelulut,hutan bangka barat

Mang Senai, tokoh adat Kampung Airmendu2yung, mengecek budi daya madu di hutan sekitar tempat tinggalnya. (ANTARA/Donatus D.P.)

Mentok, Babel (ANTARA) - Jangankan merusak hutan, dahulu orang-orang kampung tinggal di sekitar kawasan tidak akan berani membawa apapun dari dalam hutan karena takut dihukum.

"Kasihan warga, mereka ditakut-takuti dan dibodoh-bodohi terkait aturan pemanfaatan hutan. Mereka butuh bimbingan agar bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalam kawasan untuk menunjang perekonomian dan kesejahteraan warga di sekitar hutan," kata Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Unit I KPHK Rambat Menduyung, Ardianeka.

Menurut dia, warga takut untuk masuk hutan apalagi mengambil sesuatu yang ada dalam kawasan hutan karena keterbatasan informasi terkait dengan pola pengelolaan hutan.

Namun, di sisi lain masih sering dijumpai oknum yang melakukan perusakan dengan cara melakukan pembalakan maupun penambangan liar dengan alasan untuk bertahan hidup sehari-hari.

Secara perlahan warga diberikan pengetahuan terkait dengan aturan pemanfaatan kawasan hutan dan pendampingan agar bisa tetap beraktivitas dengan tenang dalam mengelola hasil hutan sekaligus upaya pelestarian.

"Salah satu cara yang kami lakukan dengan pengembangan usaha madu, ini merupakan salah satu upaya pemberdayaan sekaligus menjaga kelestarian," katanya.

Salah satu kelompok binaan usaha madu kelulut yang sudah berjalan bisa dijumpai di Desa Pangkalberas, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dinilai sudah cukup berhasil mengembangkan produksi madu kelulut.

Di Desa Pangkalberas KPHP Rambat Menduyung bersama kelompok binaan petani hutan berhasil mengembangkan usaha madu kelulut yang saat ini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 1.500 koloni.

"Pembinaan ini sejalan dengan upaya pengembangan ekonomi kreatif, sesuai dengan program kehutanan untuk memperbanyak pembentukan kelompok tani hutan," katanya.

Komitmen bersama warga sangat dibutuhkan dalam menjaga kelestarian hutan agar kekayaan alam yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan turun temurun.

Baca juga: Manisnya madu kelulut cegah kebakaran lahan gambut

Tokoh warga Desa Pangkalberas, Saidin memberikan apresiasi kepada petugas lapangan yang dalam beberapa tahun terakhir sudah bekerja keras melakukan pendampingan kelompok petani hutan.

Usaha budi daya madu kelulut sudah cukup berhasil dikembangkan Saidin dan beberapa petani di desa tersebut dan diyakini menjadi usaha berkelanjutan.

Madu kelulut bercita rasa manis bercampur asam dipercaya mampu menambah stamina jika dikonsumsi teratur dalam jangka waktu lama.

"Madu jenis ini biasa kami konsumsi sebagai saus pendamping saat makan ubi dipadukan dengan minuman kopi hangat," katanya.

Ketertarikan Saidin untuk memulai usaha budi daya madu kelulut berawal dari kebiasaan orang tua yang menjadikan madu kelulut sebagai obat tradisional.

"Sekitar 12 tahun yang lalu kami mulai mencoba usaha budi daya madu kelulut atau 'trigona' ini sekaligus mendirikan Kelompok Tani Hutan Kelulut Usai," kata guru pencak silat tradisional tersebut.

Berkat kegigihannya menekuni usaha budi daya madu kelulut, pada 2018 dirinya bersama kelompok tani hutan di desa tersebut mendapatkan penghargaan dari Bupati Bangka Barat sebagai peringkat I bidang Usaha Mikro Berprestasi dengan usaha budi daya lebah 'trigona' madu kelulut.

Bibit madu kelulut yang dibudidayakan berasal dari hutan yang ada di sekitar desa, pencarian koloni bibit kadang dilakukan sampai hutan desa-desa tetangga yang ada di sekitar Pangkalberas.

Koloni madu biasa bersarang di celah batang pohon, celah bebatuan dan permukaan tanah di sekitar rumah atau di hutan, pemindahan koloni dilakukan dengan teknik pemidahan tradisional dan dilakukan pada malam hari.

Pemindahan koloni dilakukan dengan hati-hati agar koloni tetap mau bersarang di sarang baru yang telah disiapkan, sarang tersebut terbuat dari kotak kayu papan atau kayu bulat atau log berongga yang ditutup plastik dan diberi lubang sebagai jalan keluar masuk lebah.

Sarang ditempatkan di hutan sekitar desa untuk mendapatkan hasil madu yang beragam rasanya. Salah satu hasil madu unggulan bernilai ekonomi tinggi adalah jenis madu dari lebah di sekitar pohon pelawan yang mempunyai karakteristik rasa dominan asam pahit.

Namun, madu jenis ini sangat tergantung dengan musim berbunga pohon pelawan sehingga tidak sepanjang tahun madu jenis ini ada.

"Harga madu pahit pelawan bisa mencapai tiga kali lipat dari harga madu manis," katanya.

Baca juga: Peneliti Universitas Riau amati perilaku lebah saat gerhana matahari

Sarang yang baik dapat menghasilkan sekitar satu kilogram madu tiap bulan dengan periode panen rata-rata dua hingga tiga kali per minggu.

Proses panen dilakukan dengan membuka tutup plastik pada sarang atau koloni yang terbuat dari kotak kayu untuk melihat ketersediaan madu di dalamnya.

Pemanenan yang dilakukan Saidin tidak lagi menggunakan alat sedot biasa tetapi secara mekanis menggunakan aerator aquarium yang dimodifikasi sehingga pemanenan tiap sarang dapat dilakukan lebih cepat dan higienis.

Sisa sarang madu yang sudah diambil madunya dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional obat luar pada luka karena mengandung madu dan propolis.

Secara ekonomi budi daya madu menguntungkan karena nilai jual madu mencapai Rp200.000 per kilogram.

Perjuangan Saidin dalam merintis budi daya madu kelulut bukannya tanpa hambatan, hewan pengganggu seperti kumbang dan monyet liar dapat merusak sarang madu yang menyebabkan gagal produksi.

Selain itu, keraguan pelanggan terhadap keaslian madu sering dipertanyakan karena kadar air madu yang masih berkisar 10 hingga 30 persen membuat madu yang dihasilkan terlihat encer, sedangkan alat untuk mengurangi kadar air di pasaran masih mahal, yaitu berkisar Rp20 jutaan.

Dari pola pemasaran produk khas warga masih mengandalkan pola tradisional, dari mulut ke mulut dibantu promosi melalui media sosial baru-baru ini yang dinilai belum terlalu efektif.

"Para pelanggan masih harus memesan langsung karena belum adanya gerai-gerai resmi yang menampung dan menjual madu dalam skala besar, padahal pelanggan ada yang berasal dari luar Pulau Bangka, bahkan ada beberapa dari luar negeri," kata Saidin.

Bukan hanya di sekitar hutan Pangkalberas warga menekuni usaha produksi madu, usaha sejenis juga digeluti sebagian warga Desa Airmenduyung, Kecamatan Simpangteritip.

Tokoh adat Desa Airmenduyung, Mang Senai, mengatakan warga di daerah itu secara turun temurun menekuni usaha produksi madu hutan untuk menopang perekonomian warga di sekitar kawasan hutan.

"Secara turun temurun warga Desa Airmenduyung mencari madu hutan, biasanya madu kami dapatkan di batang tanaman pohon Arah di dalam kawasan hutan," kata dia.

Pada saat musim banyak bunga, dalam satu pohon bisa menghasilkan madu sekitar 100 kilogram.

Pemanfaatan hutan dengan mengambil madu alami ini merupakan salah satu pola kearifan lokal yang juga bermanfaat untuk menjaga kelestarian hutan di daerah itu.

"Dengan menjaga hutan tetap lestari dan pola pendampingan yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Kehutanan, kami yakin ke depan warga yang ada di sekitar hutan akan semakin sejahtera," katanya.

Selain di Desa Pangkalberas, KPHP Rambat Menduyung juga berhasil menggandeng warga Desa Pelangas, Simpangteritip dan membentuk kelompok tani hutan untuk membudidayakan lebah madu manis dan pahit.

Di Desa Pelangas, saat ini sudah terbentuk dua kelompok tani hutan yang mengelola usaha madu dengan memanfaatkan HTR Desa Pelangas.

Hutan yang menyimpan kekayaan potensi sumber daya alam tidak lagi menjadi benda mati sakral yang tidak bisa disentuh, apalagi dimanfaatkan.

Saatnya warga merajut harapan hidup berkecukupan dengan potensi sumber daya alam yang ada di sekitar dan tetap menjaga serta merawat kelestarian kawasan hutan.

Ke depan, Pulau Bangka dikenal bukan hanya karena timah, namun juga madu berkualitas super, hasil pemanfaatan hutan lestari.

Baca juga: Memanen uang lewat budi daya madu kelulut

Pewarta : Donatus Dasapurna Putranta
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar