Festival Sains dan Budaya 2020 angkat kearifan lokal dan budaya bangsa

id Festival seni dan budaya 2020, FSB 2020,FSB 2020 angkat kearifan lokal dan budaya bangsa, minat siswa melakukan penelitian

Dokumentasi - Peserta mengikuti kompetisi Robotik Madrasah 2019 di Grand City Surabaya, Jawa Timur, Minggu (17/11/2019). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/pd.

Jakarta (ANTARA) - Eduversal dan Sekolah Karisma Bangsa kembali menggelar Festival Sains dan Budaya (FSB) yang akan diselenggarakan di Sekolah Karisma Bangsa, Tangerang Selatan, pada 21 hingga 23 Februari.

"Ini merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh Eduversal dan Sekolah Karisma Bangsa. Ini merupakan tahun kedua pelaksanaan FSB," ujar Direktur Eduversal, RS Dwi Prajitno Wibowo, dalam keterangannya di Jakarta, Ahad.

FSB merupakan penggabungan program besar dari Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) ke-12 dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSEBI) ke-6. Pada tahun ini, gema yang diangkat yakni "Bangun Generasi Gemilang".

ISPO merupakan olimpiade proyek penelitian dalam bidang sains, teknologi, lingkungan dan komputer. Kegiatan itu diperuntukkan untuk siswa SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.

Sedangkan OSEBI, merupakan ajang penggalian bakat, kemampuan, dan kecerdasan siswa dalam bidang seni dan Bahasa Indonesia. Perlombaan itu ditujukan bagi generasi muda berusia 6 hingga 18 tahun.

Baca juga: Guru harus dorong siswa punya budaya meneliti

Baca juga: Kota Mataram anggarkan Rp1 M untuk siswa berprestasi


"Ini merupakan langkah nyata kami dalam pembangunan generasi muda, yang memiliki keseimbangan karakter, yakni kritis, inovatif, kreatif, sekaligus menjunjung tinggi nilai budaya bangsa. Generasi muda seperti ini, yang nantinya akan mampu menghadirkan kemajuan bagi bangsa," terang Dwi.

Presiden ISPO, Prof Riri Fitri Sari mengatakan kegiatan tersebut akan menampilkan sejumlah karya inovasi siswa.

"Kami yakin pada tahun ini akan lebih baik lagi, karena banyak peluang yang bisa dilakukan dengan material yang ada di Tanah Air," kata Riri.

Pada tahun ini banyak peserta yang mengangkat kearifan lokal untuk mengatasi persoalan yang ada. Contohnya, siswa SMAN 4 Merauke yang mengangkat pemanfaatan kulit Pohon Bus sebagai bahan pembuatan papan plafon rumah antipanas.

Kemudian, siswa SMA Fatih BILINGUAL School, Aceh, yang membuat ekstrak daun Ciplukan sebagai solusi bau mulut.

"Minat siswa untuk meneliti harus terus dibina, jangan mudah puas begitu menemukan sesuatu karena perjalanannya masih panjang. Untuk menjadi peneliti membutuhkan ketekunan," tambah Riri.

Presiden OSEBI, Dr Liliana Muliastuti, mengatakan membangun manusia seutuhnya merupakan cita-cita bangsa Indonesia.

"Tidak hanya cita, tapi rasa dan karsa. Kita ingin anak-anak kita, tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga dapat mengontrol emosinya dan memiliki sopan dan santun yang baik," kata Liliana.

Liliana menjelaskan FSB merupakan wadah ekspresi bagi generasi muda untuk berkreasi di bidang seni dan budaya, di tengah gempuran digital. Selama ini, sekolah belum mengakomodir hal itu.

"Melalui FSB ini, ada pesan moral kebhinekaan, bagaimana peserta dari berbagai provinsi berkumpul dan bertemu pada ajang ini," kata Lili.

Informasi lebih lanjut mengenai FSB 2020 dapat diakses melalui laman http://www.festivalsainsbudaya.com.*

Pewarta : Indriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar