Gubernur belum pastikan kunjungan Raja Belanda pascainsiden speedboat

id gubernur kalteng sugianto sabran,kunjungan,raja dan ratu belanda,kalteng

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran ikut dalam pencarian dan evakuasi para korban laka air speedboat di Sungai Sebangau, Palangka Raya, Senin (9/3/2020) malam. ANTARA/Muhammad Arif Hidayat

Palangka Raya (ANTARA) - Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran belum bisa memastikan kunjungan Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti ke daerah itu setelah insiden perahu cepat bermotor (speedboat)  di Sungai Sebangau, Palangka Raya, Senin (9/3).

"Kami belum tahu apakah dari Kerajaan Belanda jadi atau tidaknya. Nanti kami akan berhubungan dengan pihak kerajaan dan juga Kementerian Luar Negeri," kata dia di Palangka Raya, Selasa.

Sesuai agenda pemprov pada Selasa, akan dilaksanakan rapat koordinasi wilayah pengamanan VVIP kunjungan Raja dan Ratu Belanda ke Kalteng di Aula Eka Hapakat Kantor Gubernur Kalteng.

Seperti yang direncanakan sebelumnya, Raja dan Ratu Belanda akan berkunjung ke sejumlah tempat di Palangka Raya pada 11-13 Maret, di antaranya Taman Nasional Sebangau, Nyaru Menteng, Taman PKK Betang Temanggung Tilung, serta Stadion Tuah Pahoe.

Namun, saat pengecekan lokasi guna mengamankan tamu VVIP kunjungan Raja dan Ratu Belanda di Sungai Sebangau, terjadi kecelakaan sungai dialami oleh tim. Melalui upaya pencarian hingga malam hari, 27 korban kecelakaan berhasil ditemukan dan dievakuasi.

Baca juga: Tim aju kunjungan Raja Belanda alami kecelakaan di Sungai Sebangau

Gubernur Sugianto turun ke lapangan, ikut melakukan pencarian para korban kecelakaan hingga evakuasi.

Setelah semua ditemukan, Sugianto juga langsung menjenguk para korban yang dirawat di rumah sakit.

"Atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat di Kalteng, saya menyampaikan duka cita yang mendalam untuk keluarga korban," katanya.

Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Hendra Rochmawan mengatakan pihaknya belum menerima informasi terkait dengan perubahan rencana kunjungan Raja dan Ratu Belanda ke Palangka Raya.

"Belum ada yang namanya pengulangan susunan acara atau 'schedule'," kata dia.

Ia menjelaskan kronologis kecelakaan perahu motor cepat tersebut. Kecelakaan terjadi di tikungan sungai. Tim yang terdiri atas dua kapal yang melakukan survei, yakni kapal tim utama dan pengiring saat belokan berpapasan dengan kapal tim lain yang membawa logistik.

Kapal pembawa logistik cukup besar untuk ukuran sungai kecil tersebut, sehingga pada akhirnya saat kecepatan cukup tinggi dan posisinya sama-sama di tengah akhirnya bertabrakan.

Baca juga: Luhut: belum ada perubahan kunjungan Raja-Ratu Belanda ke Indonesia
Baca juga: Raja Belanda bawa tim riset kualitas air ke Danau Toba

Pewarta : Kasriadi/Muhammad Arif Hidayat
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar