Cerita pasien RSUP M Djamil Padang dinyatakan sembuh dari COVID-19

id pasien sembuh padang ,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 2019

Aswiliarti (44), pasien yang sembuh dari COVID-19. (Antara/Ist)

Padang (ANTARA) - Sempat menjalani perawatan di ruangan isolasi selama 14 hari di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang karena positif terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) akhirnya wanita asal Pesisir Selatan ini dinyatakan sembuh.

Wanita itu bernama Aswiliarti (44) sebagai Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular di Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan. Kemudian ia juga merupakan Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Pesisir Selatan.

"Alhamdulillah saya tidak menyangka akhirnya bisa sembuh dari COVID-19 ini. Dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga tercinta. Bahkan sebelumnya sempat beredar kabar saya telah meninggal dunia," kata dia yang tiada henti bersyukur saat dihubungi dari Padang, Ahad.

Salah satu alasan yang membuat ia selalu optimis melawan COVID-19 adalah dukungan dari keluarganya. Bahkan demi kesembuhannya, ia mendapatkan sebuah gawai baru dari keluarganya supaya mempermudah mereka berkomunikasi melalui video call atau telepon video untuk memberikan semangat dan dukungan terhadapnya.

Selain itu supaya ia tidak merasa sendirian di ruangan isolasi.

"Karena waktu itu kamera gawai saya rusak. Tidak bisa digunakan untuk telepon video," kata dia.

Menurut dia saat dinyatakan sembuh dari COVID-19 merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Saat ini ia tengah diselimuti kebahagiaan, terlepas dari masa-masa sulit dan suram selama 18 hari terkurung di ruangan isolasi.

Baca juga: Seorang siswa sekolah polisi di Padang terkonfirmasi positif COVID-19

Baca juga: Dua lagi warga Padang ditemukan positif COVID-19 tanpa gejala


Suspect COVID-19

Awalnya ia sama sekali tidak menyangka akan tertulari penyakit itu, pasalnya ia tidak memiliki riwayat perjalanan dari daerah terjangkit COVID-19.

"Waktu itu saya hanya melakukan perjalanan ke Padang, mengikuti pelatihan kesehatan di salah satu hotel di Padang yang digelar Dinkes Sumbar. Bahkan saya juga tidak pernah kontak dengan PDP COVID-19," kata dia.

Akan tetapi setelah ia mencoba mengingat kembali, saat pelatihan itu panitia menghadirkan seorang pembicara dari Kemenkes. Kemudian waktu itu, saat penyampaian materi ia juga duduk di bangku paling depan. Namun saat itu pembicara tersebut dalam keadaan sehat dan sama sekali tidak berstatus ODP ataupun PDP.

"Mungkin pembicara itu sebelumnya pernah berkontak dengan PDP, saya juga tidak tahu pasti. Atau saya tertulari oleh peserta lainnya, saya juga bingung menjawabnya. Karena proses penularan COVID-19 ini memang cepat dan tidak terlihat sama sekali," kata dia.

Kemudian sepulang dari pelatihan, ia mulai merasakan batuk-batuk dan pilek. Namun, ia menduga hanya mengalami demam biasa karena faktor kelelahan dan belum sempat diperiksa ke rumah sakit.

Bahkan pada saat itu, ia masih sempat ke kantor mengadakan rapat perencanaan kegiatan pertemuan dengan Puskesmas se-Kabupaten Pesisir Selatan beserta para petugas penyakit tidak menular lainnya untuk menyampaikan hasil pertemuan waktu itu.

"Akan tetapi setelah itu, saya mulai mengalami demam tinggi, batuk, pilek, badan lemas, dan sesak napas. Sehingga saya melakukan pemeriksaan ke salah satu RSUD di Pesisir Selatan. Namun, setelah menjalani perawatan demam saya semakin tinggi," kata dia.

Hingga akhirnya, setelah menerima telepon dari kakaknya, Kepala laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Dr Andani Eka Putra yang menyarankan supaya secepatnya dirujuk ke RSUP M Djamil Padang sebagai pasien suspect COVID-19.

Baca juga: RSUP M Djamil nyatakan pasien positif asal Bukittinggi meninggal dunia

Baca juga: Dua pasien positif corona di Padang dinyatakan sembuh


Positif COVID-19

Setelah dirawat di RSUP M Djamil Padang, kemudian dilakukan pemeriksaan hidung dan tenggorokan dan hasil lab akan keluar satu hari kemudian.

Ia sama sekali tidak menyangka hasil laboratorium menyatakan dirinya positif COVID-19. Ketika dinyatakan positif COVID-19, hal yang pertama kali terfikir oleh dia adalah tentang kematian dan orang-orang yang pernah kontak dengan dirinya.

"Saat itu juga saya benar-benar kehilangan arah. Saya berpikir kematian sudah di depan mata dan banyak orang yang akan mati sia-sia karena telah kontak dengan saya sebelumnya. Saya tidak pernah berhenti menangis. Bahkan kondisi tubuh pun semakin melemah," kata dia.

Sebagaimana berita yang beredar waktu itu para penderita COVID-19 sudah banyak yang berakhir dengan kematian. Ditambah lagi sampai saat ini masih belum ditemukan vaksin untuk mengobati penyakit menular itu.

"Hal itu membuat saya semakin terpuruk dan putus asa," ujar dia.

Kemudian semua orang yang sempat berinteraksi dengan dia langsung diisolasi mandiri selama 14 hari. Setelah diisolasi dilakukan tes laboratorium COVID-19. Dari hasil tes tersebut terdapat tiga orang terkonfirmasi positif COVID-19 dari sekian banyak orang yang telah kontak dengan dia.

"Alhamdulillah suami dan anak-anak saya yang selalu berinteraksi dengan saya setiap hari tidak ada satupun yang positif, mungkin karena imunitas tubuh mereka kuat," kata dia.

Baca juga: Satu pasien COVID-19 di Kota Batu dinyatakan sembuh

Baca juga: Gubernur: 65 pasien sembuh COVID-19 di Jatim


Melawan COVID-19

Kemudian setelah mendapatkan dukungan dan semangat dari keluarganya. Ia mulai berjuang melawan penyakitnya. Ditambah lagi ia selalu mendapat dukungan dari tiga orang anaknya.

"Sehingga saya bertekat untuk sembuh. Selama diisolasi memang membosankan seorang diri. Namun, saya lebih mendekatkan diri pada Allah, perbanyak zikir, dan salat sunat," kata dia.

Kemudian ia mulai rajin berolahraga, selalu memotivasi diri agar cepat sembuh, menghibur diri dengan berbagai hal agar tidak mudah stres, banyak memakan makanan bergizi untuk meningkatkan imunitas tubuh supaya mampu melawan COVID-19," kata dia.

Hingga akhirnya berkat izin Allah dan kesungguhan, dia dinyatakan sembuh dari COVID-19. Setelah dua kali melakukan tes laboratorium dan hasilnya telah negatif.

Baca juga: RSMH Palembang umumkan satu kasus positif COVID-19 di Sumsel sembuh

Baca juga: Jubir Sulbar: Pasien asal Majene sembuh dari COVID-19


Dukungan keluarga

Ia juga bercerita, waktu itu sepulang dari pelatihan ia sempat berkunjung ke rumah saudaranya di Padang. Saat itu isteri saudaranya baru saja selesai melahirkan. Ia juga sempat menggendong dan mencium bayi saudaranya.

"Coba bayangkan betapa cemasnya mereka, setelah mengetahui saya positif COVID-19. Ditambah lagi setelah itu anaknya yang ketiga mengalami demam," katanya.

Akan tetapi mereka tidak pernah terlihat sedih dan panik. Mereka tetap bersikap santai dan terus memberikan dukungan, katanya.

"Bahkan kakak ipar saya juga memberikan dukungan pada saya. Setiap hari beliau selalu masak dan mengantarkan makanan kesukaan saya ke rumah sakit," kata dia.

Suatu ketika, kondisi tubuhnya sempat drop. Bahkan tidak bisa lagi bicara karena kelelahan. Maunya tidur saja. Namun, keluarganya tetap kompak memberikan semangat dan dukungan.

Baca juga: Sudah 22 pasien COVID-19 di Semarang dinyatakan sembuh

Baca juga: Di Korea Selatan, 91 pasien sembuh kembali positif COVID-19 saat dites


Pelayanan tim medis

Ia juga mengapresiasi perjuangan para tim medis saat melayani para pasien COVID-19. Bahkan dalam keadaan lelah mereka tetap melayani dengan baik dan ramah.

“Saya sempat bertanya pada salah seorang perawat waktu itu. Apakah dia tidak takut berinteraksi dengan kami? Sedangkan orang-orang di luar sana pasti mengucilkan kami karena takut tertular?" kata dia.

Kemudian ia menyampaikan jawaban sang perawat "Jika kami ikutan takut, maka wabah itu akan semakin kuat. Maka kita semua akan kalah dan tumbang."

“Lagi-lagi jawabannya menguatkan tubuh saya yang hampir tumbang,” kata dia.

Baca juga: Gubernur: 63 dari 256 pasien positif COVID-19 di Jatim sembuh

Baca juga: Pasien sembuh dari COVID-19 di DIY bertambah tiga orang


Obat COVID-19

Menurut dia penyakit menular COVID-19 merupakan suatu penyakit yang bisa disembuhkan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit tersebut ialah dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh.

"Menurut saya obat pertama COVID-19 ialah dukungan dan semangat dari orang-orang terdekat. Dengan demikian hati tetap tenang dan imunitas tubuh pun meningkat," kata dia.

Kemudian memperbanyak mengonsumsi makanan bergizi, kelola stres, rajin berolah raga, menjaga pola hidup sehat dan bersih. Sebagaimana yang telah dilakukannya selama 14 hari di ruangan isolasi, katanya.

Hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh dan saat ini telah dipertemukan lagi dengan keluarganya. Setelah 14 hari lamanya terkurung sendiri di ruangan isolasi.

"Di sisi lain, saya bersyukur melalui penyakit ini Allah memberikan pelajaran yang teramat besar dalam hidup saya. Coba bayangkan hanya dengan virus yang berukuran teramat kecil saja seluruh dunia ini menjadi gempar," kata dia.

Baca juga: Enam pasien sembuh dari COVID-19 di Sumbar

Baca juga: Gubernur: Angka sembuh pasien positif COVID-19 di Jatim 25,56 persen


Harapan Aswiliarti

Saat ini, setelah pulang dari rumah sakit, Aswiliarti menjalani masa pemulihan di rumahnya. Ia berharap pasien lainnya juga bisa sembuh dan pandemi COVID-19 itu segera berakhir.

Kemudian ia juga mengimbau supaya masyarakat tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Tetap waspada dengan cara menjaga pola hidup sehat dan bersih.

“COVID-19 ini memang suatu penyakit yang menular, tetapi jangan sampai membuat kita panik. Karena COVID-19 ini lebih rentan menular pada imunitas tubuh yang lemah. Kemudian tetap jaga kesehatan dan pola hidup sehat agar imunitas tubuh tetap kuat,” kata dia.

Ia mengaku selama ini ia juga memiliki penyakit penyerta lainnya berupa penyakit asma dan diabetes. Sehingga saat imunitas tubuhnya lemah maka mudah tertular COVID-19.

Ia juga mengimbau bagi masyarakat yang memiliki riwayat perjalanan dari daerah terjangkit dan merasakan gejala-gejala COVID-19 supaya segera melaporkan ke petugas kesehatan setempat agar segera mendapatkan penanganan untuk mencegah penyebaran.

“Teruntuk teman-teman yang positif COVID-19 jangan merasa malu, penyakit ini adalah musibah. Kita yang terjangkiti adalah korban dan ini bukan aib yang harus ditutupi," kata dia.

Jika penyakit tersebut diamkan saja karena takut dikucilkan masyarakat setempat tentu penyakit itu akan menyebar luas dan berakibat fatal.*

Baca juga: Satu pasien COVID-19 asal Pesisir Selatan sembuh

Baca juga: Pasien sembuh COVID-19: Jangan stres

Pewarta : Laila Syafarud
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar