Bukit Asam bidik tujuh negara jadi pasar baru ekspor

id PT Bukit Asam,batubara,COVID-19,virus corona

Direktur Utama PT Bukit Asam (Persero) Arviyan Arifin memberikan keterangan mengenai kinerja triwulan I/2020 melalui konferensi video, Senin (4/5/2020). ANTARA/Dolly Rosana

Palembang (ANTARA) - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membidik setidaknya tujuh negara untuk dijadikan pasar baru ekspor batubara agar tetap bertahan di tengah pelemahan permintaan dunia akibat pandemi COVID-19.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin dalam konferensi video, Senin, mengatakan perseroan sedang menjajaki pasar Kamboja, Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, Hong Kong, dan Korea Selatan untuk menjadi mitra dagang baru.

Baca juga: Bukit Asam catatkan kenaikan penjualan 2,1 persen

Selama ini, porsi ekspor PTBA sekitar 42 persen dari total produksi hampir 30 juta ton per tahun, yang sebagian besar ke India dan China.

“Tantangan cukup besar pada 2020, seiring penyebaran virus corona. PTBA harus tetap bertahan dalam kondisi ini, dan salah satunya harus mencari pasar baru ekspor,” kata Arviyan.

Ia mengatakan pasar baru itu sangat dimungkinkan karena sumber daya batubara ini  menjadi kebutuhan primer di sejumlah negara.

Bahkan, beberapa negara yang menerapkan lockdown seperti India, pada Maret lalu masih membuka pintu perdagangan dengan PTBA, tapi melalui pelabuhan khusus.

Selain pasar baru, di tengah pandemi, PTBA yang memiliki lokasi penambangan di Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan ini, melakukan efisiensi dalam pengelolaan usaha.

“Program efisiensi terus kami lakukan, untuk mengendalikan pengeluaran, termasuk inovasi dalam penambangan. Kami juga sedang mencari lokasi-lokasi baru penambangan, yang stripping ratio dan jarak angkut rendah,” kata dia.

Sementara itu, di tengah pandemi COVID-19 ini, PTBA mampu meraup laba Rp1 triliun pada triwulan I (Januari-Maret) 2020 dengan penjualan batubara meningkat 2,1 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya, atau naik dari 6,6 juta ton menjadi 6,8 juta ton.

Sementara itu untuk angkutan batubara dengan menggunakan kereta api mengalami peningkatan sebesar 12,1 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni dari 5,8 juta ton menjadi 6,5 juta ton.

Capaian positif ini terjadi di tengah penurunan harga batubara Newcastle sebesar 29,5 persen, maupun harga batubara termal Indonesia (Indonesian Coal Index /ICI) GAR 5000 sebesar 6,9 persen dibandingkan harga rata-rata triwulan I 2019.

Namun, menurut Arviyan, kinerja baik di triwulan I ini sulit berlanjut di triwulan II jika eskalasi penyebaran virus corona belum berakhir.

“Kami sedang mengkaji kemungkinan merevisi target, karena harus realistis juga. Jika perkiraan ahli bahwa pandemi ini berakhir di Juni atau Juli meleset, maka mau tak mau kami harus melakukan perubahan target,” kata dia.

Sebelumnya, perseroan merencanakan produksi batu bara sebesar 30,3 juta ton pada 2020 atau naik empat persen dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 29,1 juta ton.

Baca juga: PT Bukit Asam raup laba Rp1 triliun di tengah pandemi COVID-19
Baca juga: Bukit Asam salurkan bantuan pangan dan APD di dua kabupaten Sumsel

Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar