Cetak sawah baru, Pakar ingatkan masa sulit kegagalan PLG

id cetak sawah baru,gambut,pengembangan lahan gambut

Cetak sawah baru, Pakar ingatkan masa sulit kegagalan PLG

Ilustrasi - Foto udara sejumlah petani menanam padi di area persawahan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (14/1/2020). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/pd.

Jakarta (ANTARA) - Pakar kebakaran hutan dan lahan Institut Pertanian Bogor Bambang Hero Saharjo menanggapi cetak sawah baru dan mengingatkan Indonesia sudah pernah mengalami masa sulit dari proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) satu juta hektare (ha) di Kalimantan Tengah.

"Tentang cetak sawah baru, memang kalau saya lihat sederhana saja, kita sudah alami masa sulit dengan kejadian PLG kemarin. Sehingga tolong, itu benar-benar diperhatikan," kata Bambang dalam kuliah umum daring Memahami Kebakaran Lahan Gambut yang dilaksanakan Badan Restorasi Gambut (BRG) di Jakarta, Kamis.

Ia meminta agar kebijakan tersebut benar-benar mempertimbangkan kegagalan proyek PLG dilaksanakan di era pemerintahan Presiden Soeharto tersebut, mengingat jika pemerintah sudah menjadikannya sebagai kebijakan seperti tidak bisa dikendalikan lagi.

"Cobalah pakai akal sehat, peat itu seperti bayi harus dijaga kalau tidak itu jadi masalah besar. Niat baiknya perlu diapresiasi, tapi coba diperhitungkan benar," ujar dia.

Baca juga: Pemerintah lanjutkan rencana cetak sawah baru di Kalimantan Tengah

Baca juga: Ratusan hektare sawah di calon ibu kota baru ini beralih fungsi


Meski cetak sawah baru dilakukan dalam satu kawasan gambut saja, menurut Bambang, bukan berarti semua lahan tersebut dapat digunakan untuk budi daya. Perlu dilihat betul apakah benar seluruh kawasan memiliki fungsi budi daya.

Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 82 Tahun 1995 tentang Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Satu Juta Hektar di Kalimantan Tengah pada 26 Desember dengan tujuan menyediakan lahan pertanian baru dengan mengubah satu juta hektar lahan gambut dan rawa untuk penanaman padi.

Proyek tersebut dikerjakan dengan membuka kanal-kanal yang bertujuan membelah kubah gambut.

Proyek itu berakhir dengan kegagalan total. Sekitar separuh dari 15.594 keluarga transmigran yang ditempatkan di kawasan gambut tersebut meninggalkan lokasi. Sementara penduduk setempat mengalami kerugian akibat kerusakan sumber daya alam di kawasan tersebut serta dampak hidrologi dari proyek tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan berkaitan dengan rencana pengembangan wilayah baru atau percetakan sawah baru, dari hasil rapat potensi yang dikembangkan memang bisa di atas 255 ribu ha di lahan hamparan Kalimantan Tengah.

Sebelumnya dia sempat menyebutkan terdapat 900 ribu ha lahan gambut di Kalimantan sebagai lahan baru persawahan dan lahan gambut yang disiapkan bisa sepertiganya atau 300 ribu ha.

Meski demikian, menurut dia, saat ini sedang dilakukan studi dalam waktu tiga minggu dengan luas potensi 164.598 ha dari jumlah tersebut yang sudah ada jaringan irigasi 85.456 ha dan ada 57.195 ha yang sudah dilakukan penanaman padi selama ini oleh transmigran dan keluarganya dan ada potensi ekstensifikasi 79.142 ha.*

Baca juga: Pencetakan sawah baru di Kalteng dapat picu masalah lingkungan hidup

Baca juga: Penajam Paser Utara batal cetak sawah baru 1.000 hektare akibat corona


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar