Kreativitas napi di tengah wabah COVID-19 diapresiasi

id kemenkumham sulbar,apresiasi kreativitas warga binaan

Para warga binaan dan petugas di Lapas Perempuan Mamuju membuat berbagai kreativitas di tengah pandemi COVID-19. (ANTARA/HO/Kanwil Kemenkum HAM Sulbar)

Mamuju (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sulawesi Barat mengapresiasi para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Mamuju yang tetap produktif di tengah pandemi COVID-19.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Sulbar Elly Yuzar, di Mamuju, Rabu, mengatakan, di tengah pandemi COVID-19, para warga binaan yang ada di Lapas Perempuan Mamuju tetap kreatif dengan memproduksi berbagai hasil kerajinan tangan, seperti masker, kue kering dan baju koko.

"Semoga, hasil kreativitas warga binaan itu dapat meningkatkan PNBP (penerimaan negara bukan pajak) dari LPP Mamuju dan warga binaan dapat premi dari produktivitasnya," kata Elly Yuzar.

"PNBP lapas dan rutan di Sulbar hingga 30 April 2020, sudah mencapai 39,9 persen dari target sebesar 33 persen," tambahnya.

Baca juga: Kemenkum HAM Sulbar apresiasi program kemandirian Lapas Polewali

Kepala Kanwil Kemenkum HAM Sulbar Harun Sulianto menyampaikan bahwa warga binaan wajib mengikuti pembinaan kemandirian.

"Biasanya disesuaikan dengan bakat masing masing. Di LPP Mamuju ini produksi kue kering dan menjahit yang sedang ditekuni. Saya lihat ada 'oven' yang cukup besar untuk membuat kue kering, juga ada mesin jahit," ujarnya

Dia mengatakan pihaknya bersyukur karena ibu Wagub dan jajaran Pemprov Sulbar serta organisasi wanita seperti Bhayangkari Polda Sulbar, Dharma Wanita serta LSM dan mahasiswa sangat perhatian dengan warga binaan perempuan.

"Biasanya, kue kering di ruangan bu Wagub yang disajikan untuk tamu, merupakan hasil produksi warga binaan dari Lapas Perempuan Mamuju," terang Harun Sulianto.

Kepala Lapas Perempuan Mamuju Nurmia mengatakan, di tengah pandemi COVID-19 dan selama bulan suci Ramadan, warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Perempuan Mamuju tetap produktif dengan memproduksi masker nonmedis, membuat baju koko untuk warga binaan hingga buat kue kering untuk perayaan Idul Fitri.

Ia menyampaikan masker nonmedis itu dibuat oleh 12 warga binaan dengan menggunakan dua mesin jahit.

"Sampai saat ini, warga binaan kami sudah menghasilkan 732 masker. Selain untuk kebutuhan sendiri, masker itu juga telah dibagikan ke pesantren dan masyarakat sekitar lapas," ujar Nurmia.

Baca juga: Petugas Lapas-Rutan Sulbar mendapat pelatihan tentang intelijen

Untuk baju koko dan celana sarung lanjutnya, dibuat oleh tiga warga binaan dengan menggunakan dua mesin jahit.

"Baju koko dan celana sarung tersebut untuk seragam warga binaan di seluruh rutan dan lapas sulbar. Saat ini sudah diproduksi 319 pasang (celana dan baju) dan sudah diserahkan ke Rutan Pasangkayu sebanyak 30 pasang, Lapas Mamasa 24 pasang, Rutan Kelas IIB Majene 105 Pasang, Rutan Kelas IIB Mamuju sebanyak 150 Pasang serta LPKA Kelas II Mamuju sebanyak 10 Pasang," terang Nurmia.

Menjelang Idul Fitri 1441 Hijriah tambah Nurmia, lima Warga binaan Lapas Perempuan Mamuju juga membuat kue kering.

"Mereka memproduksi tujuh jenis kue kering, yakni nastar, kukis keju Legit, kukis coklat koin, kukis rambutan, salju cake, kukis kacang coklat kranci (CKCK) dan palm sugar. Alhamdulillah, kue kering laris terjual. Pak Kakanwil Kemenkumham Sulbar juga membeli 10 stoples," kata Nurmia.

Baca juga: Lapas dan Rutan diminta perketat pengawasan penggunaan HP

Pewarta : Amirullah
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar