Suara Merdeka fokus pemberitaan COVID-19 dari sisi kultural

id COVID-19,Gunawan Permadi,Suara Merdeka,Pemberitaan Media,Pembingkaian,Framing,Agenda Pemberitaan,Agenda Setting,Kultural,Budaya

Pemred Suara Merdeka Gunawan Permadi (kiri), Prof. Budi Setiyono (tengah), dan Teguh Hadi Prayitno (kanan) (ANTARA/Achmad Zaenal M)

Jakarta (ANTARA) - Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Gunawan Permadi mengatakan pihaknya fokus pada sisi kultural dan sosial dalam memberitakan COVID-19, selain dari sisi kesehatan, karena sifat masyarakat Jawa Tengah yang masih sangat kultural.

"Persoalan yang terjadi di Jawa Tengah lebih kepada kultur yang tidak mudah. Jadi kami lebih banyak menyajikan wacana kultural, misalnya soal silaturahmi," kata Gunawan dalam jumpa pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia dipantau dari Jakarta, Selasa.

Gunawan mencontohkan tentang tradisi Lebaran Ketupat yang banyak diperingati masyarakat Jawa satu minggu setelah Idul Fitri.

Menurut dia, masyarakat Jawa memperingati Lebaran Ketupat secara lebih meriah dan lebih ramai daripada hari raya Idul Fitri. Masyarakat Jawa juga sangat kental dengan tradisi mangan ora mangan kumpul. Karena itu, Suara Merdeka sebagai koran dengan basis pembaca di Jawa Tengah lebih banyak mengangkat informasi yang mencerahkan dari sisi kultural dalam pembingkaian dan agenda pemberitaannya.

"Kami mencoba mengangkat wacana kultural jangan menjadi kendala sehingga tetap bisa menyelenggarakan tradisi tetapi dengan beberapa perubahan," tuturnya.

Sebagai bagian dari strategi pembingkaian dan agenda pemberitaan tersebut, Gunawan mengatakan Suara Merdeka memberikan ruang lebih banyak kepada narasumber sosiolog dan antropolog, selain dari bidang kesehatan, dalam pemberitaan tentang COVID-19.

"Jadi bukan hanya bicara soal kesehatan supaya masyarakat bisa lebih memaknai dan mengerti tentang COVID-19," katanya.

Menurut Gunawan, persoalan budaya tidak kalah penting dari persoalan kesehatan dalam memandang pandemi COVID-19. Apalagi, masyarakat Jawa Tengah banyak memahami segala sesuatu secara kultural.

Dalam memandang hari raya Idul Fitri misalnya, masyarakat Jawa Tengah lebih banyak memahaminya secara kultural, bukan hanya secara syariat. (T.D018)

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar