Tragedi Kelam si Gagak Hitam

id Pesawat, jet jatuh, TNI AU

Tragedi Kelam si Gagak Hitam

Latihan Skuadron 12 Tiga dari lima pesawat jet tempur Hawk 100/200 dari skuadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, menuju hanggar pesawat seusai melakukan latihan 'maverick' di wilayah udara Aceh Besar, Aceh, Senin (20/2/2017). Selain melakukan latihan 'maverick' penembakan rudal dari udara ke darat, pesawat tersebut juga melakukan patroli udara dengan misi berbeda di wilayah timur dan barat provinsi Aceh. (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Pekanbaru (ANTARA) - Senin pagi (15/6), deru mesin tiga jet tempur Hawk "Black Panther" Skadron Udara 12 memecah hening Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Tepat pukul 07.00 WIB, ketiga burung besi yang menjadi garda penjaga wilayah udara Ibu Pertiwi itu lepas landas. Ketiga jet tempur buatan British Aerospace (BAE) generasi 1990 an itu menjalankan misi penting, latihan tempur penembakan di Siabu. Sebuah kawasan latihan militer berjarak sekitar 80 kilometer arah barat Kabupaten Kampar, Riau.

Satu jam kemudian, misi selesai. Selama misi berlangsung, ketiga alat utama sistem persenjataan TNI AU itu berjalan normal. Satu persatu pesawat kembali ke markas. Pesawat pertama dan kedua mendarat mulus di landasan pacu pangkalan udara Roesmin Nurjadin. Landasan yang sama juga digunakan untuk pesawat sipil Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Namun tiba-tiba ada laporan melalui radio Lettu Pnb Aprianto Ismail, pilot pesawat Hawk ketiga dengan nomor registrasi 0209 TT. Isinya, pesawat bermesin tunggal tersebut kehilangan tenaga. Saat itu, posisi pesawat sekitar dua kilometer dari ujung landasan dengan ketinggian sekitar 500 kaki atau 152 meter.

Sejumlah lampu indikator pesawat juga menyala secara bergantian. Dalam hitungan detik, Lettu Pnb Aprianto langsung memencet tombol "eject" pada kursi pilot. Dia pun terlempar dari kokpit pesawat. Sementara Hawk terbang tak beraturan hingga menghempas kawasan pemukiman Mutiara Indah, Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kampar.

"Saya melihat pesawat terbang rendah. Mungkin lima meter di atas pohon jengkol itu dan kemudian timbul suara ledakan," kata Jumiati, warga setempat kepada ANTARA.

Baca juga: Kasau: Pesawat Hawk jatuh laik terbang

Beruntung, rumah milik pegawai PT PLN itu baru saja usai direhab dan dalam keadaan kosong. Pilot selamat, dan tidak ada warga yang terluka.

Hendri, seorang warga lainnya merekam kejadian mengerikan itu. Dalam video amatir yang ia bagikan kepada ANTARA, terlihat api berkobar dan asap hitam mengepul ke udara. Warga berhamburan ke luar rumah. Dengan cepat, aparat TNI datang melokalisir areal kejadian.

Mobil pemadam kebakaran ngebut melintasi gang-gang kecil perumahan. Dengan cepat, mereka mengulur selang memadamkan kobaran api. Tak kalah cepat, foto-foto pesawat jatuh itu menyebar di media sosial.

"Alhamdulillah pilot dalam keadaan selamat. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu," kata Kepala Penerangan Lanud Roesmin Nurjadin Letkol Mhd Zukri beberapa jam usai kejadian kepada awak media.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo bergegas terbang ke Pekanbaru sesaat mendengar kabar tersebut. Jenderal bintang empat itu langsung menggelar rapat terbatas bersama Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsekal Pertama Ronny Irianto Moningka, sesaat meninjau lokasi jatuhnya pesawat dengan helikopter.

Rapat berlangsung sekitar dua jam di Ruang Arjuna Lanud Roesmin Nurjadin.

Dalam keterangan kepada wartawan, Fadjar menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Terlebih, pesawat jatuh dan hancur di pemukiman masyarakat, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.

Kasau juga menyampaikan bahwa TNI AU dalam hal ini Lanud Roesmin Nurjadin akan bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan jatuhnya jet tempur ini.

Fadjar juga memastikan pesawat Hawk 0209 TT yang jatuh itu sejatinya dalam kondisi laik terbang. Beberapa hari sebelum misi itu, dia mengatakan pesawat yang sama juga turut melaksanakan misi latihan lainnya. Semuanya berjalan dengan normal.

Dia mengatakan bahwa pesawat buatan tahun 1990 itu hingga telah menghabiskan 3.100 jam terbang. Meski telah berusia 30 tahun, pesawat itu masih dianggap layak mengingat jam terbang dinilai normal.

Untuk itu, ia mengatakan TNI AU akan segera melakukan investigasi mendalam terkait insiden tersebut. Ia memperkirakan, dibutuhkan dua pekan lamanya untuk melakukan investigasi penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

Baca juga: Pilot pesawat Hawk jatuh di permukiman masih dirawat di rumah sakit

Selama investigasi itu pula, dia mengatakan akan menghentikan sementara aktivitas penerbangan Hawk 100/200 yang memperkuat Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Namun dia menegaskan tidak menyatakan ini grounded, melainkan menghentikan  dulu pengoperasian Hawk 100/200 untuk melaksanakan proses investigasi.

Lanud Roesmin Nurjadin memiliki dua Skadron tempur. Secara geografis, pangkalan militer yang mengadopsi nama penerbang pesawat tempur pertama Indonesia Laksamana Udara TNI Roesmin Nurjadin itu berbatasan langsung dengan Selat Malaka, Singapura dan Malaysia.

Saat ini, Lanud Roesmin Nurjadin merupakan satu-satunya pangkalan militer di Pulau Sumatera yang diperkuat dua skadron udara serta satu skadron teknik 045.

Skadron Udara 12, menjadi kakak tertua setelah berdiri sejak 1983 silam. Skadron Udara 12 diperkuat dengan jet tempur Hawk 100/200 Black Panther buatan British Aerospace, persis sama dengan Skadron Udara 1 yang berbasis di Pontianak.

Pada 2014, Lanud Roesmin Nurjadin makin digdaya untuk menjaga langit Indonesia dengan diresmikannya Skadron Udara 16 yang diperkuat jet tempur F16 Fighting Falcon.

Keberadaan burung besi sayap-sayap Garuda itu jelas memberikan dampak besar dalam menjaga kedaulatan bangsa dan mewujudkan poros maritim Indonesia.

Akan tetapi, kondisi Alutsista TNI AU yang semakin menua dan tidak sejalan dengan upaya regenerasi membuat insiden serupa berulang kali terjadi. Berdasarkan catatan, pesawat dengan jenis yang sama juga pernah mengalami kecelakaan serupa di Kabupaten Kampar.

Peristiwa itu terjadi delapan tahun silam, pada 16 Oktober 2012. Sebuah pesawat jenis Hawk 200 buatan British Aerospace Inggris milik TNI AU jatuh di sekitar perumahan Pandau Permai, Kabupaten Kampar, Riau sekitar pukul 09.30 WIB.

Saat itu pesawat tersebut dipiloti oleh Letnan Dua Penerbang Reza Yori Prasetyo yang sedang melakukan latihan rutin. Pilotnya berhasil selamat karena keluar menggunakan kursi lontar sebelum pesawat jatuh. Tidak ada korban jiwa pada warga karena pesawat di lahan kosong di tengah permukiman.

Presiden Jokowi pada Oktober 2019 lalu telah memerintahkan tiga tugas untuk Kementerian Pertahanan. Instruksi itu disampaikan presiden kepada Menteri Pertahanan Prabowo.

Pertama, "roadmap" harus jelas dalam pengembangan industri alat pertahanan di dalam negeri mulai dari hulu sampai hilir dengan melibatkan baik BUMN maupun swasta, sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada impor Alutsista dari luar negeri.

Kedua, harus dipastikan ada alih teknologi dari setiap pengadaan alutsista maupun program kerja sama dengan negara-negara lain. Sumber daya manusia harus terus menjadi atensi untuk diperkuat dengan orientasi "strategic partnership".

Terakhir, Presiden meminta kebijakan pengadaan alutsista betul-betul memperhitungkan dan mengantisipasi teknologi persenjataan yang berubah begitu sangat cepatnya.

Dengan dukungan anggaran terbesar dalam APBN 2020, menjadi tantangan bagi Menhan Prabowo dan Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono untuk melakukan regenerasi Alutsista dan mewujudkan Indonesia yang kembali disegani dunia.

Baca juga: MPR: Perlu peningkatan anggaran modernisasi persenjataan TNI


Pewarta : Anggi Romadhoni
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar