Ahli Epidemiologi: Perubahan perilaku kunci hadapi normal baru

id Ahli epidemiologi,unand padang,perubahan perilaku,normal baru

Ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Defriman Djafri Ph.D. (ANTARA/Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Defriman Djafri Ph.D mengatakan perubahan perilaku kesehatan masyarakat dapat menjadi salah satu kunci dalam menghadapi kebijakan normal baru.

"Yang perlu diperhatikan masyarakat dalam menghadapi normal baru adalah vaksin. Vaksin saat ini sebenarnya adalah bagaimana upaya perubahan perilaku terhadap COVID-19," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Pada tatanan era normal baru masyarakat harus bisa menyesuaikan kebiasaan atau pola hidup yang baru pula terutama dari sisi perlindungan kesehatan.

Sebagai contoh bagi sebagian besar masyarakat sebelum pandemi COVID-19 terjadi, menggunakan masker dalam kehidupan sehari-hari mungkin jarang dilakukan.

Baca juga: Sri Mulyani: Anggaran penanganan COVID-19 naik, jadi Rp695,2 triliun

Baca juga: Balitbangkes: Potensi laboratorium mampu periksa 30.900 spesimen


Namun, perilaku atau kebiasaan tersebut saat ini tidak bisa lagi diterapkan. Setiap individu yang ingin berpergian ke luar dari rumah wajib menggunakan masker.

Secara umum, ujar dia, peningkatan aktivitas masyarakat selama normal baru juga harus dibarengi pula dengan peningkatan protokol kesehatan.

"Menjaga jarak dan peningkatan kebersihan diri ini menjadi kunci utama agar terhindar dari paparan virus dan penyakit lainnya," kata Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand tersebut.

Menurut Defriman, apabila masyarakat bisa menerapkan perubahan perilaku dari sisi kesehatan tadi maka hal itu bisa menjadi modal dasar dalam menghadapi normal baru.

Senada dengan itu, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif Ph.D mengatakan selain meningkatkan perlindungan kesehatan, percepatan pemeriksaan lab dan polymerase chain reaction (PCR) juga perlu ditingkatkan.

"Dengan situasi seperti ini harus disertai dengan pemeriksaan spesimen yang besar. Misalnya, sehari bisa 15 ribu maka angka itu ditingkatkan lagi," katanya.*

Baca juga: Anggaran penanganan COVID-19 di Surabaya baru terserap 23 persen

Baca juga: Belajar membangun kerja sama tim melalui penanganan COVID-19

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar