Ahli: Paparkan persentase masyarakat terapkan perilaku normal baru

id Pakar epidemiologi,unand padang,normal baru,new normal,defriman djafri

Ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat Defriman Djafri Ph.D. ANTARA/HO-Aspri

Jakarta (ANTARA) - Ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat Defriman Djafri Ph.D meminta pemerintah agar memaparkan persentase masyarakat yang telah menerapkan perilaku normal baru sesuai protokol kesehatan.

"Selama ini pemerintah hanya bicara tentang angka penularan dan jumlah peningkatan kasus, seharusnya juga diimbangi dengan data-data kebiasaan baru," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Data-data tersebut merujuk pada persentase masyarakat yang selalu menggunakan masker saat keluar rumah, tingkat kepatuhan masyarakat dalam mengatur jarak fisik hingga tempat-tempat umum yang telah menyediakan fasilitas cuci tangan.

"Ini bisa dirinci lagi, misal berapa persen masyarakat yang sudah menggunakan masker dengan benar, karena banyak juga yang memakainya asal-asalan saja," ujar Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand tersebut.

Baca juga: Epidemiolog sarankan penerapan normal baru secara bertahap
Baca juga: Ahli Epidemiologi: Perubahan perilaku kunci hadapi normal baru


Menurutnya, jika data kasus dan data persentase keberhasilan tersebut disandingkan, maka dapat menimbulkan rasa percaya diri bagi masyarakat. Ini akan berdampak baik dan tidak ada lagi rasa cemas berlebihan karena selama ini masyarakat hanya disuguhkan data peningkatan kasus baru setiap harinya.

Oleh sebab itu, dalam rangka menjalani normal baru yang digaungkan pemerintah, data-data pencapaian kebiasaan baru di tengah masyarakat tersebut perlu terus dipublikasikan.

Di samping itu, pada hakikatnya peningkatan atau penurunan kasus COVID-19 dari sudut pandang epidemiolog bukan perkara yang baru. Sebab, hal tersebut tergantung pada kecepatan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi serta menemukan kasus baru.

Ia menambahkan melihat kondisi saat ini individu-individu sudah mulai mengarah pada antiklimaks. Hal itu didasari semakin banyak orang yang sembuh sementara vaksin belum ada ditemukan ditambah lagi adanya anggapan virus corona sebagai sebuah konspirasi sehingga muncul berbagai anggapan keliru.

Bagi masyarakat yang mempunyai pola pikir bagus akan memahami COVID-19 sebagai sebuah ancaman yang bisa datang kapan pun. Namun, bagi individu yang pengetahuannya terbatas dan kesadaran kesehatan juga rendah akan menilai kondisi saat ini aman-aman saja.

"Orang-orang seperti inilah yang berpotensi menimbulkan kasus baru karena sudah tidak takut," katanya.

Baca juga: Ahli epidemiologi: Beri perhatian pada manajemen kasus COVID-19
Baca juga: Epidemiolog sebut data mengenai COVID-19 sangat dinamis
Baca juga: Pakar Epidemiologi : PSBB skala komunitas jauh lebih substansial

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar