BMKG siap pasang 14 alat informasi gempa dan tsunami di Sumbar

id Berita Padang, berita sumbar, BMKG,pasang alat,informasi,gempa,tsunami

FOTO ARSIP - PADANG, 15/1 - Kepala Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumbar, Ade Edwar, menunjukkan alat Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tide Gauge) yang dipasang di muara pintu air danau buatan Cimpago, Padang, Sumbar, Senin (14/1). Tide Gauge berupa alat pengukur ketinggian air laut di muara tersebut berfungsi sebagai peringatan dini tsunami, yakni usai gempa lalu air laut surut alat senilai Rp200 juta per unit itu otomatis mengirimkan data ketinggian air melalui pesan singkat (SMS) kepada operator. Kini baru satu unit dipasang, rencana BPBD Sumbar pada tahun 2014 akan mengoperasikan 20 unit alat serupa yang juga berfungsi sebagai pengukur banjir. FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra/pd/13

Padang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan melakukan pemasangan sebanyak 14 alat penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami atau Warning Receiver System (WRS) di wilayah rawan gempa dan tsunami daerah itu.

"Untuk Sumatera Barat akan dipasang 14 Warning Receiver System (WRS) dalam bulan Juni ini," kata Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang Irwan Slamet, melalui Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Padang Panjang Mamuri saat dihubungi dari Padang, Kamis.

Ia  mengatakan dalam setahun terakhir terjadi sebanyak 430 kali gempa bumi, kemudian sebanyak 37 kali gempa yang dirasakan di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan sejak 2008 BMKG sudah memasang sebanyak 275 peralatan WRS. Namun mengingat peralatan WRS masih dibutuhkan oleh pemerintah daerah dan kantor Lembaga/Kementerian terkait, maka pada tahun 2020 ini BMKG memasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi.

Ia juga menyebutkan daerah-daerah di Sumbar yang akan dipasangkan WRS sebagai berikut Pusdalops Kota Padang, Pusdalops Provinsi Sumbar, Kantor BPBD Provinsi Sumbar, Angkasapura BIM, BPBD Kota Pariaman, BPBD Kabupaten Solok, BPBD Limapuluh Kota, Stageof PPI, BPBD Kabupaten Agam, dan BPBD Kabupaten Pasaman.

"Kemudian BPBD Kabupaten Pasaman Barat, BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, BPBD Kabupaten Solok Selatan, dan BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai," katanya.

Ia juga mengatakan sejak 2015, di Sumatera Barat sudah terpasang empat peralatan WRS dan 12 Digital Video Broadcast (DVB).

"WRS generasi terbaru ini tentu juga menggunakan teknologi terbaru dengan nama WRS NewGen,” katanya.

Ia menjelaskan perbedaan WRS saat ini dengan WRS sebelumnya, yaitu sebagai terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, karena alat ini akan memberikan informasi gempa secara lebih cepat karena bersifat "real time".

Diharapkan setelah WRS generasi baru itu dipasang dapat meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami dari BMKG Pusat Jakarta ke kantor unit pelaksana teknis BMKG, pemerintah daerah,lembaga/kementerian, media massa, dan lembaga lain yang terkait penanganan bencana.

"Kami berharap dengan adanya percepatan penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami ini, maka dapat mempercepat respon dalam penanganan bencana, sehingga memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana," katanya.

Ia menjelaskan wilayah Indonesia merupakan bagian dari jalur gempa dunia yang terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Laut Banda, Seram, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.

"Berdasarkan hasil monitoring BMKG menunjukkan selama periode 2008 hingga 2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 5.818 kali, gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 347 kali dan dua tahun sekali terjadi gempa berpotensi tsunami," katanya.

Sebagai wilayah yang terletak pada jalur gempa aktif, kondisi fisiografi wilayah Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Ketiga lempeng tektonik tersebut bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain, sehingga menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di dunia.

"Selain itu, wilayah Indonesia memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, kita memiliki 13 segmentasi sumber gempa megathrust, diantaranya megathrust Mentawai yang berada di Sumatera Barat," katanya.

Kemudian Indonesia juga memiliki sebanyak 295 segmentasi sesar aktif, empat diantaranya merupakan segmen aktif yang berada di wilayah Sumatera Barat dan tiga segmen lainnya di bagian ujung segmennya berada di perbatasan wilayah Sumatera Barat yang dapat juga mempengaruhi aktifitas kegempaan di Sumatera Barat.

"Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks ini, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman," demikian Mamuri .

Baca juga: 164 sensor pantau gempa di Indonesia

Baca juga: BNPB: Perkuat Program Sekolah Aman Bencana di Sumbar

Baca juga: Belajar penanganan gempa dan tsunami Wagub Sumbar ke Jepang

Baca juga: Gubernur: Gempa Solok Selatan tidak diprediksi sebelumnya

Pewarta : Laila Syafarud
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar