Akademisi Undiksha: Normal Baru untuk sekolah munculkan masalah baru

id undiksha,undiksha singaraja,normal baru, protokol kesehatan,COVID-19, sekolah

Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd. ANTARA/Made Adnyana/am.

Singaraja (ANTARA) - Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd menyatakan jika normal baru (new normal) diterapkan untuk bidang pendidikan dengan membuka sekolah, maka akan terdapat sejumlah persoalan yang berpotensi timbul, di antaranya fasilitas kesehatan dan fasilitas kenormalan yang belum memadai.

"Masih ada seperangkat persoalan yang membelit sekolah, terutama menyangkut ketersediaan fasilitas dan dukungan masyarakat, termasuk sekolah yang ada di Bali, ujarnya. 

Selain itu, kesiapan SDM sekolah untuk mampu dan terampil melaksanakan new normal di sektor pendidikan merupakan persoalan tersendiri lagi," kata Wakil Retor Bidang Perencanaan, Administrasi, Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Undiksha itu di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Sabtu.

Prioritasnya, kata Lasmawan, adalah keamanan, kesehatan, keselamatan, dan keterlindungan peserta didik atas hak belajar dan aktivitas akademiknya selama mereka di sekolah. Jika SDM belum siap, akan memicu timbulnya masalah baru, berupa kegagalan dalam penerapan protokol kesehatan dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

Masalah yang lain lagi, secara psikologis, sosial, dan keformalan, sebagian besar sekolah belum mampu memberikan kepastian perlindungan keselamatan dan kesehatan kepada siswanya.

Baca juga: Pastikan sekolah normal baru, Kemendagri gandeng banyak pihak

Baca juga: Risma minta masukan guru agar pelajar Surabaya bisa sekolah lagi


Menurut dia, persoalan tersebut semakin kompleks manakala ditambah dengan masalah umum di sekolah berupa kesulitan membatasi anak untuk bermain dan bergaul dengan sebayanya selama mereka di sekolah, serta kemandirian yang sedang bertumbuh pada anak sulit dibendung untuk tidak bersosialisasi, karena siswa SD adalah mereka yang sedang bertumbuh baik secara sosial maupun psikologis.

"Inilah berbagai persoalan yang berpotensi terjadi di sekolah dalam menghadapi new normal diterapkan," jelasnya.

Meski berpotensi timbulnya berbagai persoalan, bukan berarti sekolah harus diam. Tetapi perlu adanya sinergi yang mutualis antara pemerintah pusat, pemda, orang tua, dan sekolah, termasuk masyarakat sekitar sekolah untuk mengambil sikap dan tindakan.

Dalam menghadapi new normal, perlu dilakukan penerapan protokol secara baku untuk seluruh warga sekolah maupun orangtua siswa yang sangat memungkinkan berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Tidak kalah penting lagi penyiapan fasilitas penunjang.

Dalam upaya menjaga kualitas pembelajaran, perlu ada penyesuaian pendekatan, model dan strategi pembelajaran, termasuk materi ajarnya.

"Hal-hal ini yang berkaitan dengan keamanan, keselamatan, kesehatan dan keterlindungan siswa, sehingga anak-anak sekolah dasar sebagai salah satu generasi penerus bangsa tidak menjadi korban, apalagi dikorbankan. Dalam menerapkannya perlu dukungan serta kerja nyata dari semua pihak," ujarnya.

Baca juga: Komisi X: Banyak guru tidak gunakan metode daring selama pandemi

 

Pewarta : Naufal Fikri Yusuf/Made Adnyana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar