Doa seniman gambus Betawi untuk hari jadi DKI

id wisata betawi

Replika rumah adat Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. (ANTARA/Andi Firdaus)

Jakarta (ANTARA) - Awan cerah tampak di langit kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan saat Fadli Syamwel bersama sejumlah rekannya tiba di Museum Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Sabtu (20/6).

Siang itu jarum pendek jam belum menunjuk angka satu, dua penjaga museum pun belum bersiaga di meja tamu, kecuali seorang petugas keamanan yang karib disapa Bang Dede masih bersiaga di pintu masuk.

"Masih jam makan siang bang, tunggu ya, petugas tamunya lagi makan siang dulu, silakan ditunggu sekitar sepuluh menit lagi," kata Dede.

Fadli yang berprofesi sebagai seniman gambus itu berniat menggarap video klip terbaru bertajuk "Annabi" yang berarti doa dan kebaikan bagi siapa pun yang bersholawat akan memperoleh keberkahan.

Usai merampungkan proses produksi lagu selama sebulan, Fadli yang kini tergabung dalam grup musik "Syamwel Mahmoed" sedang bersiap menggarap video klip terbaru di gedung Museum Betawi, Setu Babakan.

Rencananya lagu beraransemen nasyid itu akan dirilis bertepatan dengan hari jadi DKI Jakarta yang rutin diperingati setiap tanggal 22 Juni.

Didera wabah COVID-19 yang merusak hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat Jakarta, lagu Annabi diharapkan menjadi secercah doa yang memberi harapan kepada mereka yang beriman bahwa situasi akan kembali membaik.

"Musik gambus ini telah menjadi seni Islam yang identik dengan akar budaya Betawi. Kalau ngaku orang Betawi, ayo dong tunjukkan peran kita sebagai warga Betawi dengan minat dan bakat yang kita punya," katanya.

Fadli tidak memungkiri jika Wabah COVID-19 turut mempengaruhi kehidupan ekonomi seluruh personel yang beranggotakan Syahlani sebagai vokalis, Hendra sebagai gitaris, Fadhli sebagai violis dan Fitrah sebagai pemain keyboard.

Seluruh anggota band ini merupakan jebolan pondok pesantren besar di Indonesia yang terbentuk pada 2013.
Musisi gambus Betawi, Fadli (kiri), berbincang dengan rekan seprofesi saat mengunjungi museum Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2020). (ANTARA/Andi Firdaus)


Sebagai grup musik komersial yang rutin berwira-wiri di berbagai stasiun televisi nasional serta acara off air, jadwal manggung tujuh personel Syamwel Mahmoed semakin jarang digelar.

Baca juga: Sekda DKI sebut HUT Jakarta tahun ini hanya beda caranya

"Setiap akhir pekan biasanya kita memenuhi jadwal manggung, tapi sejak COVID-19 ada, malah tidak ada sama sekali," kata pemain keyboard Syamwel Mahmoed, Fitrah.

Larangan untuk mengumpulkan massa selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi persoalan serius bagi grup musik gambus binaan Ustaz Solmed itu untuk tampil di hadapan publik.

Nuansa Setu Babakan
Wisatawan mengunjungi teater museum Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2020). (ANTARA/Andi Firdaus)


Setu Babakan atau Danau Babakan berdiri pada lahan seluas 289 hektare berjarak 10 kilometer dari kawasan Depok, Jawa Barat.

Kawasan yang diresmikan Gubernur Sutiyoso pada kurun 2000 itu berfungsi sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi, area yang diperuntukkan untuk pelestarian warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi.

Perkampungan Betawi tradisional yang lengkap dengan rumah-rumah bergaya Betawi ini diapit dua danau buatan, Danau Setu Babakan seluas 30 hektare dan Setu Mangga Bolong seluas 17 hektare.

Warga sekitar di RW08 Jagakarsa menyebut kawasan itu sebagai "bantaran" yang berada di tengah pemukiman padat hunian.

Keberadaan danau di kawasan itu bagai oasis di tengah gersangnya kehidupan Jakarta. Oasis dari segi alam, karena setu babakan adalah satu dari sedikit daerah hijau yang masih bertahan di Jakarta. Di area ini terdapat banyak pohon rindang yang membuat udara terasa sejuk.

Air danau pun cukup bersih dan terawat. Tidak sedikit wisatawan yang memanfaatkan waktu luang akhir pekan untuk sekadar memancing ikan atau bercengkrama bersama keluarga maupun kolega sambil menyantap menu khas Betawi.
Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2020). (ANTARA/Andi Firdaus)


Sabtu ini bertepatan dengan pembukaan kembali operasional Setu Babakan setelah ditutup beberapa bulan sesuai protokol kesehatan PSBB di Jakarta.

Naik perahu naga adalah salah satu pilihan aktivitas yang ada di area wisata untuk mengelilingi danau dengan tiket Rp10 ribu.

Beranjak sedikit ke dataran atas, terdapat berbagai replika kebudayaan Betawi yang dibangun Pemprov DKI mengitari sekeliling danau.

Baca juga: Berwisata di Kampung Betawi di Kota Tua

Bagi wisatawan yang berminat meninjau langsung replika adat Betawi, dapat melalui pintu masuk yang dikenal sebagai Gerbang Si Pitung (jawara Betawi).

Beberapa langkah dari gerbang tampak Museum Betawi yang berdiri megah dengan dominasi material bangunan kayu jati berukuran besar.
Museum Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2020). (ANTARA/Andi Firdaus)


Pada bagian tengah museum terdapat fasilitas bernama amfiteater sebagai ruang publik yang diperuntukkan bagi pertunjukan budaya maupun seni.

Amfiteater dikelilingi enam replika rumah adat Betawi seperti Rumah Kebaya yang terinsipirasi dari salah satu pakaian nasional Indonesia.

Disebut Rumah Kebaya karena bentuk atapnya menyerupai pelana yang dilipat dan apabila dilihat dari samping akan tampak lipatan-lipatan yang terlihat seperti
kebaya.

Dengan fasilitas ini pengunjung dapat berfoto menggunakan busana adat Betawi dengan lokasi pemotretan yang disesuaikan dengan keinginan pengunjung.

Ada pula Rumah Gudang, salah satu tipe rumah Betawi yang umumnya ditemukan di daerah pedalaman, terutama pada zaman dulu.

Ciri khas rumah Betawi tipe Gudang ini adalah denah berbentuk segi empat yang memanjang ke belakang. Atapnya berbentuk pelana dengan struktur yang tersusun dari kerangka kuda-kuda.

Selain memajang rumah adat, museum Betawi juga memiliki koleksi pakaian adat, sepeda ontel, hingga pernak pernik kebudayaan yang masih terawat secara baik.
Wisatawan menyantap kuliner khas Betawi di pinggir Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2020). (ANTARA/Andi Firdaus)


Konser Amal Virtual
Dua hari jelang perayaan HUT DKI Jakarta ke 493, biasanya pengelola Perkampungan Budaya Betawi telah disibukkan dengan berbagai aktivitas persiapan acara.

Wabah COVID-19 rupanya berimbas pada kebijakan pengelola untuk meniadakan acara yang bersifat mengundang kerumunan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Petugas Bagian Sarana Prasarana (Satpras) Perkampungan Budaya Betawi, S Mamat, yang dijumpai penulis membenarkan hal itu.

Berdasarkan hasil rembuk pengelola bersama sejumlah tokoh masyarakat maupun sesepuh adat Betawi, diputuskan bahwa situasi COVID-19 jangan sampai mengurangi kemeriahan peringatan hari jadi DKI tahun ini.

"Kita rencananya menggelar Konser Amal Virtual yang akan disiarkan langsung melalui kanal media sosial pada Minggu (21/6)," katanya.

Acara tersebut disiarkan langsung melalui aplikasi Instagram @dkijakarta, @hot932fm, aplikasi YouTube Betawi Bangkit dan Jakarta Tourism mulai pukul 16.00 WIB.

Baca juga: Melihat wajah asli Jakarta

Acara yang mengangkat yang mengampanyekan #dirumahaje itu akan dimeriahkan artis Ibu Kota seperti David Nurbianto, Denny Cagur, Kojek Rap Betawi, Bedu Lantun Orkestra, Gambang Kromong dan Artis Paski DKI Jakarta.

Mamat mengatakan puncak acara akan digelar penggalangan dana untuk membantu seniman Betawi Jakarta di HUT ke-493 Jakarta.

Teknis penggalangan dana dapat dilakukan pihak donatur melalui laman kitabisa.com.

Dari cerita Sabtu ini di Setu Babakan, agaknya perlu disimak ungkapan bijak yang disampaikan musisi gambus Fadli bahwa "Belas kasihan mengikat kita satu sama lain. Bukan rasa kasihan, tetapi sebagai manusia yang belajar bagaimana mengubah penderitaan menjadi harapan untuk hari esok"

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar