Ribuan warga Georgia peringati satu tahun protes anti-Kremlin

id unjuk rasa anti-Kremlin di Georgia,Georgia Rusia,protes anti-Kremlin,unjuk rasa saat pandemi,pandemi COVID-19

Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah) dan Menteri Pertahana Sergei Shoigu berjalan bersama setelah parade Victory Day, yang memperingati kemenangan atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II, di Red Square, pusat ota Moskow, Rusia, Kamis (9/5/2019). ANTARA FOTO/Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin via REUTERS/djo/wsj

Tbilisi (ANTARA) - Ribuan orang berkumpul di ibu kota Georgia, Tbilisi, Sabtu (20/6), berunjuk rasa menentang pemerintah dan Rusia, satu tahun setelah pembubaran paksa oleh aparat terhadap  demonstrasi anti-Kremlin.

Aksi protes itu jadi kumpulan massa pertama yang berlangsung di Georgia selama pandemi. Penyelenggara aksi menggambar wajah Presiden Rusia Vladimir Putin di jalanan sebagai penanda untuk membantu pengunjuk rasa menjaga jarak.

Sebagian besar demonstran mengenakan masker dan penyelenggara aksi membagikan cairan pembersih tangan (hand sanitizer).

Aksi protes menentang Kremlin mulai sejak Juni tahun lalu saat seorang anggota parlemen Rusia yang sedang berkunjung diizinkan berbicara dari kursi ketua parlemen Georgia dengan menggunakan Bahasa Rusia. Peristiwa itu membuat banyak warga Georgia geram mengingat mereka berperang melawan Rusia 12 tahun lalu.

Unjuk rasa yang digelar di luar gedung parlemen tahun lalu berujung bentrok dengan aparat kepolisian. Polisi menggunakan gas ar mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.

Lebih dari 240 warga terluka, termasuk di antaranya 30 jurnalis dan 80 polisi. Dua demonstran, salah satunya Mako Gomuri, 18, kehilangan penglihatannya.

"Mereka yang menembak saya tahun lalu belum dihukum. Hari ini, saya punya lebih banyak pertanyaan dibandingkan dengan setahun yang lalu," kata Gomuri dalam orasinya di hadapan para demonstran.

Para pengunjuk rasa meniup trompet dan membawa poster berisi tulisan: "Bersama Lawan Penjajahan!" Tulisan itu merujuk pada pendudukan paksa Rusia di dua wilayah Georgia, yaitu South Ossetia dan Abkhazia.

Menjelang aksi unjuk rasa berakhir, beberapa demonstran mengibarkan poster yang berbunyi: "Kita akan bertemu saat pemilihan umum," merujuk pada pemilihan anggota parlemen pada tahun ini.

Sumber: Reuters

Baca juga: Ketua parlemen Georgia mundur pascakerusuhan

Baca juga: Parlemen Rusia desak pemerintah jatuhkan sanksi terhadap Georgia

 

Unjuk rasa di Dataran Merdeka Kuala Lumpur


Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar