Karantina Pertanian Surabaya promosikan beras "konjac" ke Korea

id Balai Karantina Pertanian, Beras Konjac, Beras Universitas Brawijaya, Beras Rendah Kalori

Petugas Karantina Pertanian Surabaya saat menunjukkan beras konjac. ANTARA/HO-Dinas Pertanian Surabaya/aa.

Surabaya (ANTARA) - Karantina Pertanian Surabaya mempromosikan beras "konjac" atau biasa dikenal dengan beras rendah kalori asal umbi porang hasil inovasi civitas akademika Universitas Brawijaya, Malang, ke Korea Selatan, dalam pameran Korea International Women's Invention Exposition (KIWIE).

"Kami mengapresiasi hasil inovasi dari civitas akademika di Universitas Brawijaya ini, semoga promosi berhasil dan berlanjutan ekspornya," kata Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi melalui keterangan tertulisnya di Surabaya, Minggu.

Menurut Musyaffak, pihaknya siap memfasilitasi ekspor asal sub sektor tanaman pangan yang diketahui mengandung lemak lebih rendah dari beras biasa, sehingga cocok bagi konsumen yang membatasi konsumsi lemak/untuk berdiet.

Ia mengatakan, tindakan pemeriksaan karantina terhadap 200 gram beras konjac ini juga dilakukan sebelum diterbangkan ke Korea Selatan, yang meliputi pemeriksaan fisik dan memastikan komoditas ini telah bebas dari hama gudang Oryzaephilus sp, dan dipastikan sehat serta aman kami terbitkan Phytosanitary Certificate (PC), jelasnya.

Musyaffak menuturkan, porang merupakan tumbuhan liar yang lazim ditemukan di sela-sela pepohonan hutan dan pekarangan rumah. Tanaman porang saat ini mulai dilirik untuk dikembangkan secara luas karena memiliki nilai ekonomis tinggi.

"Umbi porang biasa digunakan sebagai bahan baku tepung, kosmetik, obat, penjernih air, bahan ramen (mie), termasuk dibuat beras konjac ini," kata Musyaffak.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menyebutkan negara tujuan ekspor untuk porang secara nasional saat ini adalah Jepang, Thailand, China, Taiwan, Korea, Vietnam dan Australia.

"Sejalan dengan gagasan Gerakan Tigakali Lipat Ekspor (Gratieks) dari Menteri Pertanian, maka tumbuhnya ragam komoditas ekspor baru akan terus didorong," katanya.

Ia menjelaskan, selain ragam komoditas ekspor baru yang tumbuh, ke depan dengan hilirisasi ekspor tidak akan lagi produk mentah, namun harus produk jadi atau minimal setengah jadi.

Baca juga: Balai Karantina Pertanian Denpasar luncurkan website tiga bahasa
Baca juga: Menteri Pertanian lepas ekspor pertanian Sumut senilai Rp79 miliar

 

Pewarta : A Malik Ibrahim
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar