BMKG: Bangunan tahan gempa kunci utama keselamatan

id Gempa bumi,Bangunan tahan gempa,Mitigasi gempa,BMKG

Alat berat membongkar rongsokan bangunan Mal Tatura Palu, Sulawesi Tengah, Senin (18/3/2019). Setelah rusak berat akibat gempa 28 September 2018, Pemkot Palu sebagai pemilik saham mayoritas pusat perbelanjaan itu akan membangunnya kembali dengan konstruksi yang lebih tahan gempa dan luasan yang lebih besar dari 28 ribu menjadi 40 ribu meter persegi. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa kunci utama keselamatan saat peristiwa gempa bumi adalah bangunan yang berkonstruksi tahan gempa.

"Gempa bumi tidak membunuh dan melukai, tetapi bangunan roboh yang kemudian menimpa penghuninya adalah penyebab timbulnya korban jiwa," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Rabu.

Dia mencontohkan, peristiwa gempa bumi kuat bermagnitudo 7,5 mengguncang Oaxaca Meksiko pada Selasa (23/6) malam, jika dicermati tayangan video dan foto dampak gempa, tampak banyak gedung bertingkat yang mengalami guncangan dahsyat tetapi tidak mengalami kerusakan parah atau roboh.

Dampak gempa Oaxaca hingga saat ini baru tercatat lima orang meninggal dunia. Kondisi dampak gempa tersebut sangat berbeda dengan dampak Gempa Yogyakarta 2006. Dengan kekuatan yang jauh lebih kecil yaitu magnitudo 6,4, gempa Yogyakarta mengakibatkan korban jiwa lebih dari 5.800 orang meninggal.

Baca juga: Akademisi ingatkan pentingnya standarisasi bangunan tahan gempa

Menurut Daryono, Meksiko sepertinya sudah lama menyiapkan struktur bangunan tahan gempa, sementara di Yogyakarta saat itu masih banyak bangunan yang di bawah standar aman gempa.

"Pelajaran terpenting yang dapat kita ambil bahwa bangunan tahan gempa adalah kunci keselamatan yang paling utama dalam menghadapi gempa, sehingga cepat atau lambat kita harus merealisasikannya," tambah Daryono.

Gempa di Meksiko terjadi akibat dipicu oleh deformasi batuan tepat di zona Megathrust Oaxaca. Lempeng Cocos yang mendasari Samudra Pasifik dekat Meksiko, secara perlahan mendorong pantai Oaxaca ke arah timur laut dengan kecepatan 50 hinga 70 milimeter per tahun.

Pergerakan ini menjadi terkunci ketika berbenturan Lempeng Amerika Utara yang menjadi landasan daratan Oaxaca sehingga terjadilah akumulasi medan tegangan batuan tepat pada bidang kontak antar Lempeng Cocos dan Lempeng Amerika Utara.

Baca juga: Mahasiswa UGM ciptakan pondasi tahan gempa dari "shockbreaker" motor

Tekanan kulit bumi di zona megathrust itu tampaknya sudah melampaui batas elastisitasnya hingga batuan tidak mampu lentur lagi sehingga patah dengan tiba-tiba selanjutnya memancarkan energi gelombang seismik.

Meksiko merupakan wilayah rawan gempa, sudah banyak peristiwa gempa kuat yang melanda selama seabad terakhir seperti gempa pada 2017 (M 8,2) 2012 (M 7,4) 2003 (M7,5) 1995 (M 8,0) 1985 (M 8,0), 1932 (M 8,1) 1845 (M 7,9) dan 1786 (M 8,6).

Lebih lanjut Daryono mengatakan gempa Oaxaca Meksiko M 7,5 tadi malam menarik untuk dicermati, dan dapat diambil pelajaran bahwa gempa besar akan mengalami pengulangan atau periode ulang, sehingga daerah yang pernah mengalami gempa besar pada masa lalu dapat kembali dilanda gempa kuat di masa yang akan datang.

Baca juga: Pakar: perhatikan peta zona bencana agar investasi aman

Sehingga wilayah Indonesia yang memiliki catatan sejarah gempa kuat pada masa lalu wajib hukumnya membangun bangunan tahan gempa serta mengedukasi warganya bagaimana cara selamat saat terjadi gempa.

"Ini penting sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi kejadian gempa berikutnya," katanya.

Gempa kuat sangat berpotensi terjadi di kawasan seismic gap yaitu zona sumber gempa aktif akan tetapi sudah lama tidak terjadi gempa dahsyat. Seismik gap ibarat bom waktu gempa yang satu saat akan meledak dengan melepas energi gempa sangat besar.

Jika mencermati urutan sejarah gempa besar di Meksiko yang terjadi di sepanjang Subduksi Cocos, tampak bahwa gempa Oaxaca terjadi di kawasan yang selama ini "kosong" dari gempa besar.

Untuk itu perlu mengidentifikasi zona megathrust dan sesar aktif di Indonesia yang selama ini segmennya belum mengalami gempa kuat untuk diwaspadai.

Baca juga: Mencermati kearifan lokal dalam membangun hunian pascagempa

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar