Bulog usulkan anggaran pangan Rp19 triliun dalam APBN 2021

id bulog,apbn 2021,dirut bulog,budi waseso,stok beras

Ilustrasi: Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso usai memantau kegiatan operasi pasar di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat. (Perum Bulog)

Jakarta (ANTARA) - Perum Bulog mengusulkan anggaran sebesar Rp19,051 triliun dalam APBN Tahun 2021 untuk program ketersediaan pangan, termasuk pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP).

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Dirut Perum Bulog Budi Waseso merinci anggaran tersebut terdiri dari kebutuhan subsidi beras tahun 2021 sebesar Rp4,051 triliun dan pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 1,5 juta ton sebesar Rp15 triliun.

"Sesuai penjelasan tersebut, maka total anggaran pangan dalam APBN 2021 yang diusulkan Bulog adalah sebesar Rp19,051 triliun," kata Budi Waseso dalam RDP yang digelar di Kompleks Parlemen DPR/MPR Jakarta, Kamis.

Budi Waseso menjelaskan perhitungan kebutuhan subsidi beras yang mencapai Rp4,051 triliun tersebut berdasarkan Harga Pembelian Beras (HPB) tahun 2021 sebesar Rp10.801 per kg. Sementara itu penyaluran CBP pada tahun 2021 diasumsikan mencapai 1,5 juta ton.

Sementara itu harga jual CBP yang disalurkan Bulog melalui operasi pasar ditetapkan sebesar Rp8.100 per kg, sehingga terdapat selisih Rp2.701 per kilogram. Dengan asumsi penyaluran CBP sebanyak 1,5 juta ton, anggaran yang diperlukan untuk mengganti selisih harga beras tersebut sebesar Rp4,051 triliun.

Baca juga: Aman, Mentan perkirakan akhir 2020 masih ada stok beras 6,1 juta ton

Ada pun ketentuan terkait perhitungan selisih harga subsidi beras ini diatur sesuai Peraturan Menteri Keuangan No 88 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan, dan Pertanggungjawaban Dana Cadangan Beras Pemerintah.

Budi Waseso menambahkan hingga kini Bulog pun masih menjaga stok aman CBP sebesar 1 juta -1,5 juta ton, mengikuti keputusan rapat koordinasi terbatas (rakortas) pada 28 Maret dan 27 Agustus 2018.

Namun demikian ia mengeluhkan hingga kini penugasan kepada Bulog masih bersifat ad hoc tanpa ada jaminan kontinuitas. Penugasan tersebut dilakukan hanya pada waktu harga gabah jatuh di produsen atau saat harga beras tinggi di tingkat konsumen.

"Penugasan penyediaan stok beras ini tidak dibarengi dengan kebijakan penyaluran, sehingga seringkali stok berlebih," kata Budi Waseso.

Baca juga: Stok beras cukup hingga Desember, Buwas: Tidak perlu impor
 

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar