Tinggalkan kresek kembali ke besek

id Bambu,Besek,Idul Adha,Kresek,Kantong plastik,Pelarangan kantong plastik,Pelarangan kresek,Anies baswedan,Anies

Penanggung jawab gerai KJP Pasar Senen Blok III menunjukkan besek bambu murah untuk wadah daging kurban yang dijual di Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019) (ANTARA/SUWANTI)

Jakarta (ANTARA) - Setelah disosialisasikan sejak setengah tahun lalu, larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di DKI Jakarta efektif mulai berlaku pada Rabu, 1 Juli 2020.

Pelarangan itu merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan dan Pasar Rakyat.

Meski sosialisasi larangan kantong plastik sempat teralihkan karena adanya pandemi COVID-19, tapi kini kembali dilakukan secara masif. Di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, misalnya, sosialisasi dilakukan di pasar tradisional, pusat perbelanjaan, pertokoan dan warga.

Kecamatan Tebet sudah melakukan sosialisasi gerakan penggunaan kantong belanja ramah lingkungan sejak Januari 2020. Beberapa minimarket, tempat perbelanjaan, swalayan dan pasar rakyat sudah ada yang memasang spanduk tentang kebijakan baru ini.

Bahkan pada Januari 2020, Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Isnawa Adji telah menunjuk Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur sebagai percontohan penerapan pengurangan kantong plastik sekali pakai (kresek).

"Sosialisasi terus kita lakukan hingga saat ini, tinggal eksekusi di lapangan per tanggal 1 Juli," kata Camat Tebet Dyan Airlangga saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (29/6).
 
Sekretaris Kecamatan Tebet, Teguh Arifiyanto (tengah) menunjukkan kantong belanja ramah lingkungan usai melakukan sidak hari pertama larangan kantong plastik di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2020) (ANTARA/Laily Rahmawaty)


Dyan memastikan kebijakan larangan kantong plastik diberlakukan per 1 Juli 2020. Tapi masih dalam tahap penyesuaian, tidak serta merta langsung ada sanksi bagi yang tidak menerapkan.

Baca juga: Pedagang besek bambu Pasar Jatinegara Jakarta Timur kekurangan pasokan

Sanksi
Sanksi akan diberlakukan secara tegas seperti penerapan sanksi dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) setelah berjalan selama beberapa pekan.

Sanksi diberlakukan apabila sudah ada petunjuk pelaksana (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) dari kebijakan ini. Misalnya, di satu pasar ini sudah ditetapkan tidak boleh ada lagi kantong plastik, maka di situ sanksi otomatis berlaku.

Berdasarkan laman Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang dipantau di Jakarta, Rabu, sanksi yang akan dikenakan berupa teguran tertulis, uang paksa atau denda sebesar Rp5 juta hingga Rp25 juta, pembekuan izin hingga pencabutan izin.

Subjek yang diatur dalam pergub tersebut, pertama adalah toko swalayan, pedagang atau pemilik toko dalam pusat perbelanjaan dan pasar. Kedua pengelola pusat perbelanjaan dan pasar.
 
Pedagang memasukkan belanjaan ke dalam tas belanjaan di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Senin (27/1/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur sebagai pasar percontohan Gerakan Pengurangan Kantong Kresek atau kantong plastik sekali pakai. Namun dalam kenyataannya, masih banyak pedagang maupun pembeli yang menggunakan kantong plastik sebagai tempat membawa belanjaan, ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.


Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Isnawa Adji melalui akun media sosial Instagram miliknya, aktif menyosialisasikan kebijakan penggunaan kantong belanja ramah lingkungan.

Foto-foto terkait gerakan itu diunggahnya di Instagram resmi miliknya dengan keterangan foto mengajak masyarakat untuk memviralkan Gerakan Tanpa Kantong Plastik Sekali Pakai (Kresek).

Baca juga: Kurangi kantong kresek, Pasar Tebet Barat dan Timur jadi percontohan

"Ayo mulai sekarang bawa kantong belanja ramah lingkungan, jangan minta kantong plastik kresek lagi pas belanja. Jadi kita tidak ikut nambah sampah plastik lagi, nyok kita bantu pasukan oranye dan rekan-rekan yang peduli masalah lingkungan," tulis Isnawa di akun media sosialnya.

Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali dalam akun Instagram resmi miliknya juga mengajak warganya untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan Jakarta Selatan yang bersih, sehat dan bebas sampah plastik.

"Biasakan untuk membawa kantong belanjaan di kendaraan masing-masing," kata Marullah.

Dengan kebijakan tersebut maka ke depan kebutuhan kantong belanja warga DKI Jakarta secara bertahap--mau tidak mau--harus beralih. Kalaupun masih beredar dan digunakan oleh warga atau toko dan pasar itu adalah kantong plastik yang ramah lingkungan.

Kebijakan ini juga membuka tumbuhnya usaha untuk menghasilkan kantong belanja ramah lingkungan. Misalnya, terbuat dari kain atau kantong kertas (paper bag). Itu berpeluang diproduksi oleh industri kecil dan mikro, bahkan skala rumah tangga.

Baca juga: McDonald's sudahi penggunaan sedotan plastik di China

Para penjahit sekelas tukang permak juga mendapatkan peluang untuk membuat kantong belanja dari bahan kain. Begitu pula industri kreatif dan rumah tangga berpeluang membuatnya, baik dari bahan kain maupun kertas tebal (karton) dengan beragam motif.

Besek
Pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai selain menempatkan pasar tradisional, pertokoan dan pusat perbelanjaan serta warga sebagai sasaran tampaknya juga mendapatkan momentum. Yakni penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha pada akhir Juli 2020.

Biasanya--mungkin alasan kepraktisan--kresek marak digunakan untuk bungkus daging kurban. Dengan kresek, daging-daging kurban kemudian dibagikan kepada warga yang berhak mendapatkannya.

Tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mulai mengubah kebiasaan warga tersebut. Dia menggugah kembali ingatan dan kebiasaan warga yang telah ditinggalkan, yakni penggunaan wadah dari anyaman bambu (biasa disebut besek).

Di masa lalu hingga awal dekade 1980-an, penggunaan besek untuk beragam kegiatan warga sangat marak. Misalnya untuk tempat makanan dan bumbu-bumbu hingga tempat daging saat Hari Raya Idul Adha.

Seiring dengan hadirnya kresek, kebiasaan itupun ditinggalkan warga. Alasannya, kresek lebih praktis, lebih mempercepat waktu kerja dan--tentu saja--lebih murah harganya.

Namun dengan pertimbangan dari sisi lingkungan hidup, sampah kresek menjadi persoalan karena tidak bisa diurai. Para ahli kesehatan pun tidak menyarankan penggunaannya terlebih untuk makanan.

Banyak cerita dan fakta dari sampah kresek ini. Karena itu, pelarangan penggunaan kresek untuk makanan kini memperoleh momentumnya di Hari Raya Kurban.

Di sisi lain, larangan penggunaan kresek membuka peluang tumbuhnya inovasi pembuatan kantong belanja ramah lingkungan dari bahan kain atau karton. Begitu juga memacu tumbuhan kerajinan besek.

Kalaupun tidak diproduksi di wilayah DKI Jakarta karena kendala ketersediaan bambu sebagai bahan baku utama pembuatan besek, namun produk kerajinan itu berpotensi tumbuh di daerah-daerah. Rumpun bambu milik warga di pedesaan semakin berharga.

Pemenuhan kebutuhan besek untuk tempat daging kurban pun berpeluang memacu perputaran ekonomi di Jakarta maupun di daerah produsen bambu dan besek.

Kini, terbuka kesempatan untuk mengidentifikasi kebutuhan besek di Jakarta. Kemudian tersedia rentang waktu sekitar sebulan hingga Idul Adha 1441 Hijriah untuk memobilisasi produk tersebut di berbagai daerah.

Peluang ini ada pada perusahaan swasta maupun milik pemerintah. Bahkan orang perorang atau pedagang dan agen/distributor kebutuhan sehari-hari juga punya kesempatan untuk memasok besek di Jakarta.

Di saat mulai berlaku pengurangan/pelarangan kresek, kini saatnya memacu hadirnya barang pengganti (subtitusi). Terkait pembagian daging kurban, kebutuhan yang mendesak adalah besek sebagai pengganti kresek.

Ayo mulai berburu besek...
 

Pemprov DKI Jakarta gencar sosialisasikan kantong belanja ramah lingkungan


Pewarta : Sri Muryono
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar