China minta empat media AS laporkan informasi operasional terperinci

id China,AS,China-AS,media

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping . (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque)

Beijing (ANTARA) - China meminta empat perusahaan media asal Amerika Serikat (AS) yang bekerja di negaranya untuk melaporkan rincian informasi operasional mereka, kata Kementerian Luar Negeri China, Rabu, sebagai aksi balasan atas perlakuan serupa dari AS.

Keempat media yang dimaksud adalah Associated Press, UPI, CBS, dan National Public Radio. Mereka diwajibkan memberikan informasi mengenai pegawai, keuangan, dan properti di China dalam waktu tujuh hari.

"Kami meminta kepada AS untuk segera mengganti langkah, memperbaiki kekeliruan, serta menghentikan tekanan politis dan pembatasan yang tak masuk akal terhadap media China," kata juru bicara kementerian, Zhao Lijian, kepada wartawan.

China da AS melakukan aksi saling balas yang melibatkan jurnalis dari kedua negara dalam beberapa bulan belakangan, di tengah meningkatnya ketegangan atas sejumlah isu, mulai dari pandemi COVID-19 hingga kontroversi di Hong Kong.

Baca juga: Wall Street ditutup jatuh saat virus China mencapai Amerika Serikat
Baca juga: China peringatkan balas AS atas UU mendukung pemrotes Hong Kong


Bulan lalu, AS menyebut bahwa pihaknya akan mulai memperlakukan empat media utama asal Cina sebagai kedutaan besar asing, menyusul aksi serupa yang dilakukan AS di awal tahun ini--caranya sama, yakni mewajibkan mereka melaporkan informasi personel dan properti.

Sebelumnya, pada Maret, China mengusir belasan jurnalis AS dari media New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post. Di waktu yang bersamaan juga meminta ketiganya, ditambah Voice of America dan majalah Time, untuk melaporkan kegiatan operasional mereka di China.

Aksi itu mendapat balasan dari AS berupa pemangkasan jumlah jurnalis dari empat media utama milik pemerintah China yang diizinkan meliput di AS.

Pada Mei, Pemerintah AS membatasi visa bagi jurnalis China hanya hingga 90 hari, dengan opsi perpanjangan, padahal sebelumnya visa bagi jurnalis bersifat tanpa batasan waktu (open-ended).

Sumber: Reuters

Baca juga: Isu Hong Kong, Xinjiang picu ketegangan China-AS terkini
Baca juga: AS peringatkan China terkait UU keamanan nasional baru di Hong Kong

Pewarta : Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar