Pakar: Ukuran virus SARS-CoV-2 cukup besar bisa dihambat masker biasa

id Masker, SARS-CoV-2,aa

Penjual memajang manekin yang mengenakan masker bagi pelajar di sebuah toko di Bengkulu, Kamis (2/7/2020). Masker bermotif khusus menyesuaikan seragam pelajar SD, SMP, dan SMA/SMK dan berlogo Tut Wuri Handayani tersebut dijualRp10.000 per lembarnya. ANTARA FOTO/ David Muharmansyah/hp.

Jakarta (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Laboratorium Diagnostik Gugus Tugas Nasional Pratiwi P. Sudarmono mengatakan ukuran virus SARS-CoV-2 pada dasarnya cukup besar sehingga tidak dapat menembus rongga udara pada masker kain biasa sekalipun.

"Karena sebenarnya ukurannya adalah cukup besar, 400 sampe 500 mikron. Kita bisa menghambat masuknya ke dalam tubuh kita karena melalui pernapasan, infeksinya, yaitu dengan masker, masker biasa," kata Pratiwi dalam diskusi webinar bertajuk, Polemik: Sains, COVID-19 dan Komunikasi Publik yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9, di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan bahkan dibandingkan dengan virus influenza, ukuran virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit COVID-19, kata dia, sebenarnya jauh lebih besar.

"Cukup besar, 400 sampe 500 mikron dibandingkan dengan virus-virus lain, virus influenza misalnya, yg besarnya hanya sepersepuluhnya," kata dia.

Pengetahuan tentang virus itu, kata dia, seharusnya dikomunikasikan lebih baik lagi kepada masyarakat sehingga imbauan untuk memakai masker dan protokol kesehatan lainnya dapat dipatuhi dan dilaksanakan dengan baik.

Baca juga: Pakai masker bisa kurangi asupan oksigen, benarkah?

Baca juga: Haruskah bayi pakai masker kain untuk hindari COVID-19?


"Sampai sekarang masyarakat dipaksa untuk pakai masker meskipun maskernya adalah masker kain yang sering kita pakai ke mana-mana saat ini. Itu sebetulnya mereka seharusnya dipahamkan. Mengapa virus ini bisa kita tahan dengan masker itu karena sebenarnya ukurannya adalah cukup besar," kata dia.

Dengan edukasi yang baik, masyarakat juga diharapkan akan lebih mudah diajak untuk melakukan upaya-upaya pencegahan, sehingga penyebaran COVID-19 semestinya tidak menimbulkan dampak yang lebih besar lagi.

"Begitu dahsyatnya (virus ini) sehingga kita tahu bahwa virus ini berhasil mengubah cara hidup kita, cara kita bekerja, bahkan di masa depan barangkali mengubah cara kita bergaul. Dan juga barangkali bukan hanya mengubah tapi membelokkan arah budaya dan peradaban di masa depan," kata dia.

"Jadi saya rasa saat ini sangat penting untuk mengomunikasikan sains, khususnya dalam masa pandemi ini kepada masyarakat dengan cara yang lebih baik," kata dia lebih lanjut.

Baca juga: Lupa pakai masker? Facebook dan Instagram akan beri notifikasi

Baca juga: Kemendag sosialisasikan aturan ekspor masker dan alat pelindung diri

Pewarta : Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar