Bamsoet berharap ICMI lahirkan banyak pemimpin saat pandemi COVID-19

id Bamsoet,ICMI,pemimpin baru,COVID-19,pandemi

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo (Bamsoet). (ANTARA/HO-Dok Humas MPR RI)

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) berharap Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mampu melahirkan banyak calon pemimpin baru dengan adanya pandemi COVID-19, baik di daerah maupun di tataran nasional.

Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo, mengatakan bahwa sangat penting melihat pandemi COVID-19 itu sebagai peluang melahirkan pemuda-pemudi yang mampu melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di semua tingkatan.

"Pandemi COVID-19 juga telah menunjukkan kualitas kepemimpinan di berbagai negara. Ada yang mendapatkan pujian, ada juga yang menjadi bulan-bulanan. Bahkan pandemi COVID-19 juga telah melahirkan para pemimpin baru yang berhasil mencuri perhatian rakyat, seperti Gubernur Tokyo Yuriko Koike hingga Gubernur New York Andrew Cuomo," ujar Bamsoet dalam rilis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ia menilai pandemi COVID-19 tak hanya perang menangani musibah atau sekadar menangani masalah kesehatan dan ekonomi masyarakat dunia saja, melainkan juga tentang kemampuan merebut pengaruh negara-negara dunia dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Bamsoet mengatakan, berakhirnya Perang Dunia II melahirkan Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin AS melawan Blok Komunis yang dipimpin Uni Soviet dan negara-negara satelitnya.

Begitu pula dengan berakhirnya Perang Dingin, melahirkan Perang Dagang yang memanas sejak tahun 2018, ditandai kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memerintahkan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) menerapkan bea masuk sebesar 50 miliar dolar AS terhadap barang-barang Tiongkok.

Perang melawan pandemi COVID-19 juga menunjukkan adanya perebutan pengaruh itu, sehingga kini terjadi pergeseran kekuatan pengaruh dari Barat ke Timur.

Pergeseran itu ditandai dengan kegencaran Tiongkok memberikan jutaan persediaan kelengkapan medis untuk membantu berbagai negara dunia mengendalikan penyebaran COVID-19 dari mulai negara-negara Asia, Afrika, hingga Amerika Latin mendapatkan banyak bantuan dari Tiongkok.

"Pandemi COVID-19 semakin meruncingkan Perang Dagang Amerika-Tiongkok. Bahkan sampai berimbas keluarnya Amerika dari keanggotaan Badan Kesehatan Dunia (WHO) efektif per 6 Juli 2021. AS juga menghentikan sumbangan ke WHO yang mencapai 500 juta dolar AS per tahun. AS menilai WHO telah menjadi 'boneka' Tiongkok karena tak cekatan menyampaikan informasi riil penyebaran COVID-19 di awal kemunculan di Wuhan, Tiongkok," ujar Bamsoet saat memberikan sambutan dalam Musyawarah Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dilakukan secara virtual, dari ruang kerja Ketua MPR RI, di Jakarta.

Turut hadir Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua Umum ICMI Prof Jimly Asshiddiqie, Sekretaris Jenderal ICMI Jafar Hafsah, dan Rektor Institut Pertanian Bogor Prof Arif Satria.
Baca juga: Ketua ICMI ingatkan pimpinan PT jaga kebebasan berpendapat mahasiswa

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia itu mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mulai mencanangkan penguatan kedaulatan nasional dengan menggenjot berbagai produktivitas barang dan jasa dalam negeri karena COVID-19.

"Di antaranya dengan melarang impor barang konsumtif yang masuk melalui e-Commerce, melarang impor alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan alat pelindung diri (APD), masker serta berbagai penunjang kesehatan lainnya. Berbagai kebijakan itu wujud nyata keberpihakan pemerintah terhadap kedaulatan nasional," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila itu berharap, melalui penguatan kedaulatan nasional, Indonesia dapat semakin disegani berbagai negara dunia, sehingga tak sekadar menjadi pemandu sorak di tengah persaingan Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Menurutnya, Pancasila yang dikenalkan ke berbagai negara Asia dan Afrika oleh Presiden pertama RI Soekarno, membuat Indonesia tampil cekatan dalam grup baru, Gerakan Non-Blok, yang menjadi kekuatan ketiga di antara Blok Barat dan Blok Timur.

Bamsoet mengatakan, Indonesia di awal masa kemerdekaan ketika dipimpin Presiden Soekarno, berupaya pula membawa pengaruh terhadap dunia agar tak larut dalam pengaruh Blok Barat dengan Blok Timur.
Baca juga: ICMI gagas ikatan cendekiawan Muslim Asia Tenggara

"Ke depan harus lahir Soekarno baru yang mampu mengangkat harkat, derajat, dan martabat Indonesia," kata Bamsoet pula.

Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar