Kasus corona melonjak, Afrika Selatan tutup sekolah negeri

id Kasus corona melonjak,Afrika Selatan,tutup sekolah umum

Sejumlah pelajar berdiri pada tanda jarak fisik saat mengantre makanan sekolah di kota Gugulethu ketika diberlakukan karantina secara nasional untuk mencegah penyebaran penularan virus corona (COVID-19) di Cape Town, Afrika Selatan (24/4/2020). ANTARA/REUTERS/Mike Hutchings/TM/aa.

Johannesburg (ANTARA) - Sekolah-sekolah negeri Afrika Selatan bakal ditutup selama empat pekan, kata Presiden Cyril Ramaphosa pada Kamis (23/7), ketika kasus terkonfirmasi virus corona mencapai 400.000 lebih.

Ramaphosa mengatakan penting bagi sekolah untuk tidak menjadi ajang penularan pada saat infeksi COVID-19 negara tersebut meningkat pada salah satu level tercepat di dunia.

"Kami sengaja mengambil prosedur yang bersifat hati-hati untuk tetap menutup sekolah selama negara diprediksikan akan mengalami lonjakan terdahsyat infeksi (COVID-19)," katanya melalui pidato.

Sekolah negeri akan ditutup mulai 27 Juli hingga 24 Agustus, selain untuk siswa Kelas 12 yang akan rehat sepekan dan siswa Kelas 7 yang akan rehat selama dua pekan.

Ramaphosa mengakui sulit mencapai kata mufakat saat berkonsultasi dengan pemerintah, pihak sekolah, wali murid dan masyarakat sipil mengenai apakah sekolah akan dibuka selama pandemi.

Tahun ajaran baru akan diperpanjang sesudah akhir 2020, dan pemerintah akan melanjutkan program nutrisi untuk menyediakan makanan bagi para pelajar selama masa rehat.

Afrika Selatan menutup sekolah ketika memasuki penguncian ketat pada akhir Maret, namun pihaknya memungkinkan untuk melanjutkan pembelajaran di sekolah bagi beberapa kelas mulai awal Juni.

Tetapi, beberapa pekan belakangan serikat guru termasuk, serikat SADTU ,melobi agar sekolah ditutup sampai setelah puncak infeksi berlalu, yang kemungkinan terjadi pada September.

Serikat merasa khawatir dengan tingginya tingkat absensi, infrastruktur sekolah yang buruk di kota dan di perdesaan serta kegagalan mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan.

Namun, sejumlah pakar pendidikan berpendapat bahwa menutup sekolah merupakan tindakan yang keliru.

Menurut pakar, para guru sepertinya lebih mungkin terinfeksi di komunitas mereka ketimbang di sekolah dan bahwa menutup sekolah dapat membahayakan sistem kesehatan dengan memaksa sejumlah petugas layanan kesehatan untuk menyeimbangkan pengasuhan anak dengan menjalankan tugas mereka untuk menekan virus.

Penutupan sekolah awal tahun ini memperluas kesenjangan pendidikan yang sudah kentara antara sekolah-sekolah bergengsi, yang dapat mengganti silabus mereka ke pembelajaran daring, dan sekolah-sekolah yang kekurangan dana serta sumber daya atau pelatihan untuk melakukan proses belajar dan mengajar secara virtual.

Sumber: Reuters

Baca juga: 1.800 murid sekolah di Afrika Selatan terinfeksi corona

 Baca juga: Kasus corona naik, Afsel kembali terapkan jam malam

Baca juga: Afrika Selatan longgarkan pembatasan COVID-19 dengan hati-hati


 

Kelanjutan dua forum ekonomi Indonesia dan Afrika



 

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar