Di masa pandemi, upaya pencegahan dan imunisasi hepatitis menurun

id hepatitis,covid-19,kemenkes,Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung,wiendra waworuntu,imuniasai hepatitis,anak,ibu hamil

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenjeral (Ditjen) Kemenkes RI dr Wiendra Waworuntu saat diskusi daring dengan tema "Ayo Deteksi Dini Hepatitis B" yang dipantau di Jakarta, Senin (27/7/2020). (FOTO ANTARA/ (Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan melaporkan upaya program pencegahan melalui deteksi dini dan imunisasi hepatitis pada anak dan ibu hamil pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020 menurun dibandingkan tahun sebelumnya dan masih jauh dari capaian target.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu mengatakan di Jakarta, Selasa, bahwa cakupan imunisasi hepatitis untuk anak baru lahir (HB-0) pada periode Januari hingga Juni baru 40 persen.

"Periode Januari-Juni baru sekitar 40 persen, artinya kita harus bekerja keras untuk dapatkan vaksinasi HB-0 mencapai target 90 persen, diikuti dengan imunisasi HB1, HB2, HB3," katanya.

Wiendra menjelaskan seharusnya cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir diikuti imunisasi hepatitis B 1, 2, dan 3 harus mencapai 80 hingga 90 persen.

Dia mengemukakan bahwa cakupan imunisasi hepatitis B pada tahun 2019 secara keseluruhan mencapai 86 persen.

Sedangkan pemeriksaan deteksi dini atau skrining hepatitis B pada ibu hamil yang pada lima tahun ke belakang terus meningkat, kata dia, juga anjlok pada tahun 2020 diakibatkan oleh pandemi COVID-19.

Sebagai gambaran, ia mengatakan pemeriksaan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil tahun 2019 secara total yaitu 2.576.950 pemeriksaan, sedangkan hingga triwulan dua tahun 2020 pemeriksaan tersebut baru mencapai 724.497 pemeriksaan.

Padahal, kata dia, hepatitis B merupakan penyakit kronis berbahaya yang dapat dicegah dengan imunisasi dan tindakan medis dari dokter. Hepatitis merupakan penyakit peradangan sel hati yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus, parasit, alkohol, perlemakan, atau obat-obatan.

Sebanyak 80 persen kasus penularan Hepatitis B terjadi dengan cara ditularkan dari ibu yang sudah mengidap hepatitis kepada anaknya, demikian Wiendra Waoruntu.

Baca juga: Kemenkes: Pemutusan penularan Hepatitis B ibu ke anak jadi prioritas

Baca juga: 1 dari 10 orang Indonesia idap hepatitis B, lebih 5 juta ibu hamil perlu screening

Baca juga: Imunisasi Kunci Pengendalian Hepatitis

Baca juga: Pakar: penularan tifus-hepatitis A paling rentan dari penjaja makanan

Baca juga: Bio Farma: Imunisasi Benteng Pertahanan


 

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar