Setiap 15 detik, satu orang meninggal karena COVID-19 secara global

id kasus covid-19,angka kematian covid-19,virus corona,wabah covid-19,pandemi covid-19

Seorang pria berjualan kelapa menggunakan becak melewati grafiti di jalan yang menggambarkan virus corona untuk meningkatkan kepedulian pentingnya tetap berada di rumah saat karantina nasional selama 21 hari agar penyebaran virus corona (COVID-19) rendah, di Chennai, India, Senin (13/4/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/P. Ravikumar/foc/djo

Chicago (ANTARA) - Satu orang meninggal dunia setiap 15 detik akibat COVID-19 secara global saat ini dengan kasus kematian yang melampaui angka 700.000 per Rabu, dan Amerika Serikat, Brazil, India, Meksiko menjadi negara terparah.

Menurut penghitungan Reuters berdasarkan data dari dua pekan terakhir, secara rata-rata terdapat 5.900 pasien COVID-19 meninggal dunia dalam waktu 24 jam. Angka itu setara dengan 247 orang per jam, atau satu orang per 15 detik.

Sementara untuk kasus infeksi, Amerika Serikat dan Amerika Latin menjadi episentrum baru pandemi COVID-19.

Awalnya, wabah masuk lebih lambat ke wilayah Amerika Latin yang berpenduduk total sekitar 640 juta orang itu--dibandingkan dengan wilayah lain di dunia yang sudah lebih dahulu mengalami lonjakan kasus.

Namun setelah penyakit infeksi virus corona itu masuk, pemerintah kesulitan mengendalikan penyebarannya karena masalah kemiskinan dan kepadatan penduduk.

Lebih dari 100 juta orang di wilayah Amerika Latin dan Karibia hidup dalam lingkungan kumuh, menurut data Program Permukiman Manusia PBB. Banyak pekerja sektor informal, yang kesulitan pula mengakses jaring pengaman sosial, yang harus lanjut bekerja di tengah pandemi.

Di Amerika Serikat, dengan penduduk sekitar 330 juta orang, perjuangan melawan wabah juga mengalami sejumlah kendala, sekalipun negara itu merupakan salah satu yang terkaya di dunia.

Tercatat sebanyak sekitar 4,8 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi COVID-19 hingga 5 Agustus 2020 pagi. Pakar penyakit infeksi Dr. Anthony Fauci, pada Senin (3/8), menyebut bahwa wilayah negara bagian yang mengalami lonjakan kasus harus mempertimbangkan untuk kembali menerapkan penutupan wilayah.

Sumber: Reuters

Baca juga: WHO duga Wuhan bukan tempat awal penularan COVID-19

Baca juga: Taiwan setujui penggunaan dexamethasone untuk pasien COVID-19

Pewarta : Suwanti
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar