TPFF: Konflik gajah dan warga di Aceh Tengah mulai berkurang

id Aceh,Gajah Sumatera,TPFF Aceh Tengah,WorldElephantDay,Hari Gajah Sedunia,BKSDA Aceh

Ketua Tim Pengaman Flora Fauna (TPFF) Karang Ampar-Bergang, Muslim, di sela-sela diskusi Mengungkap Kematian Gajah di Aceh, dalam momentum peringatan Hari Gajah se Dunia 2020 di Banda Aceh, Rabu (12/8/2020). (ANTARA/Khalis)

Banda Aceh (ANTARA) - Relawan Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar-Bergang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menyatakan konflik gajah Sumatera dengan manusia setempat jauh berkurang, sejak warga desa membentuk tim dalam merawat konservasi.

"Alhamdulillah kami saat ini sadar dan kami mengajak masyarakat untuk sadar bahwa gajah itu adalah satwa yang dilindungi negara dan undang-undang," kata Ketua TPFF Karang Ampar-Bergang, Muslim di Banda Aceh, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan Muslim di sela-sela diskusi "Mengungkap Kematian Gajah di Aceh", dalam momentum peringatan Hari Gajah Se Dunia tahun 2020.

Muslim menjelaskan TPFF merupakan tempat tergabung warga Karang Ampar dan Bergang yang dibentuk pada 2018, dalam upaya meminimalisir konflik gajah dengan warga desa setempat.

Baca juga: Pulahan gajah liar obrak-abrik kebun warga di Aceh Jaya

Baca juga: Raih penghargaan KLHK, Aceh Timur mesti giatkan jaga upaya konservasi


Mereka membentuk TPFF pascakonflik besar terjadi antara satwa liar bertubuh besar itu dengan warga setempat pada 2017. Akibatnya dua ekor gajah liar mati, yakni satu ekor mati karena memakan racun di rumah warga dan satu lagi mati tertembak pemburu.

"Alhamdulillah, pemburu-pemburu di desa kami itu, kami rekrut untuk menjadi anggota tim relawan TPFF untuk menjaga konservasi gajah tersebut," ujarnya.

Sejak kehadiran TPFF, keberlangsungan hidup antara manusia dan gajah di desa itu dinilai begitu kooperatif. Warga yang tergabung dalam TPFF juga membagi ruang keberlangsungan hidup berdampingan bersama gajah.

"Kami telah membagi ruang antara gajah (hidup) di seberang sungai dan manusia (hidup) di pemukiman warga," ujarnya.

Bahkan, warga juga menyiapkan tempat satwa liar yang memiliki belalai itu makan, di kawasan hutan lindung dan areal penggunaan lain (APL), agar gajah-gajah tersebut tidak mengganggu kegiatan masyarakat di pemukiman.

"Kami cari uang sendiri, kami enggak ada dana dari pemerintah, enggak ada dana dari LSM, enggak ada dari siapa-siapa. Kami membuatnya dari hasil tani, hasil keringat kami, secara mandiri dari 2018 sampai saat ini," ujar Muslim, menjelaskan pembiayaan TPFF.

Menurut Muslim, warga setempat mulai memahami bahwa gajah merupakan aset masa depan, sehingga populasinya harus diperhatikan. Bahkan, warga berharap gajah itu tidak cepat punah sehingga dapat dilihat oleh generasi selanjutnya.

"Artinya selama ini konflik gajah disana itu sangat berkurang, karena adanya kerjasama ini juga antara pemerintahan desa dengan relawan TPFF," ujarnya.*

Baca juga: Kawanan gajah liar terjebak di area perkebunan di Aceh Utara

Baca juga: Seekor anak gajah ditemukan mati di Aceh Jaya

Pewarta : Khalis Surry
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar