Menteri: Lebanon perlu 'lockdown' dua minggu

id Lebanon,penguncian,lockdown,lonjakan kasus,ledakan Beirut

Anak-anak pengungsi Suriah bermain bersama, saat Lebanon memperpanjang masa karantina untuk menekan penyebaran penularan virus corona (COVID-19) di kamp pengungsian Suriah di lembah Bekaa, Lebanon, Kamis (7/5/2020). Gambar diambil 7 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Ali Hashisho/AWW/djo

Beirut (ANTARA) - Menteri kesehatan sementara Lebanon, Senin, mengatakan Lebanon perlu memberlakukan lockdown (penguncian) selama dua minggu setelah kasus infeksi virus corona melonjak di negara itu, yang sedang berusaha memulihkan diri dari dampak ledakan di Beirut.

"Hari ini kami nyatakan status kewaspadaan umum dan kita perlu mengambil langkah berani untuk menutup (negeri) selama dua minggu," kata Menteri Hamad Hassan kepada radio Voice of Lebanon.

Lebanon pada Minggu (16/8) mencatat 439 kasus baru tertinggi infeksi corona dan enam kematian baru dalam 24 jam.

Negara itu, yang sudah jatuh ke dalam krisis keuangan, sebelum ledakan 4 Agustus sedang berjuang menangani lonjakan COVID-19.

Ledakan di gudang di pelabuhan Beirut itu menewaskan sedikitnya 178 orang, menghancurkan sebagian ibu kota dan mendorong pemerintah untuk mundur.

Ledakan gudang merusak banyak rumah sakit dan membuat para petugas medis kewalahan menangani lebih dari 6.000 orang yang terluka.

Dampak ledakan membuat sekitar setengah dari 55 pusat medis di seluruh Beirut tidak berfungsi, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu.

"Kita semua menghadapi tantangan nyata dan angka yang tercatat dalam periode terakhir itu mengejutkan," kata Hassan.

"Masalah tersebut membutuhkan tindakan tegas." Tempat tidur perawatan intensif di rumah sakit negeri dan swasta sekarang penuh, ia menambahkan.

Kepada Reuters, Hassan mengatakan pihak berwenang sejauh ini tidak berencana menutup bandara.

"Bahaya sebenarnya adalah penyebaran di masyarakat," katanya. "Setiap orang harus waspada dan mengambil tindakan pencegahan yang paling ketat."

Namun, setelah ledakan itu membuat seperempat juta orang kehilangan tempat tinggal, risiko penyebaran virus meningkat, kata WHO.

Menurut data kementerian kesehatan, sejak Februari kasus COVID-19 di Lebanon tercatat 8.881 dan 103 kematian.

Sumber: Reuters
Baca juga: PM Hassan Diab ingatkan bahwa Lebanon hadapi risiko krisis pangan
Baca juga: Khawatir gelombang kedua, Lebanon perpanjang karantina wilayah
Baca juga: Lebanon nyatakan status darurat medis

Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar